Akun save. Diberdayakan oleh Blogger.

.

RSS

SERI TAUHID

_*Seri Tauhid*_

*Jadilah Pembuka Kebaikan Dan Penutup Keburukan*

✍🏻 _Ustadz Beni Sarbeni,Lc_

Nabi ﷺ bersabda:

“Sungguh, di antara manusia ada yang menjadi pembuka kebaikan penutup keburukan, ada pula di antara mereka yang menjadi pembuka keburukan penutup kebaikan. Maka berbahagialah orang yang menjadi pembuka kebaikan, dan celakalah bagi orang yang menjadi pembuka keburukan”.
_Shahih. Riwayat Ibnu Majah, al-Baihaqi dan yang lainnya_ 📒

Keberadaan kita di media sosial beragam sesuai dengan niat dan langkah yang kita lakukan:

🔹Jika tujuannya karena Allah ﷻ, maka jalan yang ditempuh pun mesti di jalan Allah ﷻ.

🔹Ada yang niatnya ikhlas karena Allah untuk menjalin ukhuwah, ini adalah
kebaikan yang sangat besar.

🔹Ada yang niatnya ikhlas karena Allah ﷻ untuk menjalin ukhuwah dan berdakwah, ini adalah kebaikan di atas kebaikan.

🔗Ada juga yang belum jelas, sebenarnya untuk apa saya ada di sana ? yang seperti ini maka kembali pertimbangkan dan luruskan niat !
Diantara perkara penting yang harus kita lakukan selain ikhlas karena Allah ﷻ adalah..
1️⃣Hendaklah keberadaan kita disana sebagai pembuka kebaikan, bukan pembuka keburukan.

2️⃣ Perhatikan adab dan akhlaq dalam setiap ucapan dan perbuatan.

3️⃣Jika kita ingin mengabarkan sesuatu, maka kabarkanlah yang benar dengan menimbang, apakah yang saya sebar ini memberikan manfaat atau tidak ?

❗️Apalagi jika yang kita sebarkan adalah masalah agama, maka..
Fahami terlebih dahulu apa yang kita sebarkan !
Cermati terdahulu, apakah sumbernya bisa dipertanggung jawabkan ?
Kemudian...

Nabi ﷺ bersabda:
“Agama adalah nasihat”.
Shahih. Riwayat Muslim
Nasihat dalam hadits ini lebih luas maknanya daripada makna nasihat dalam bahasa Indonesia, nasihat dalam hadits ini artinya menjaga hubungan dengan menginginkan kebaikan untuk orang lain.

✅Karena nasihat itu sendiri berasal dari kata Nashaha yang arti aslinya adalah jernih atau murni, karena itu ada ungkapan dalam bahasa arab al-Asal an-Nasih yang artinya madu murni atau Nasha al-Jawwu artinya udara yang jernih.

📕Karena itu pula dalam lanjutan hadits Nabi ditanya, “Untuk siapa nasihat itu?” Nabi menjawab: “Untuk Allah, untuk kitabNya, untuk Rasul......”,
Jika arti nasihat difahami dengan makna yang kita fahami dalam bahasa Indonesia, maka akan ada kerancuan dalam memahaminya.

‼️Tapi jika kita tahu secara rinci seperti uraian di atas maka kita fahami bahwa, sejatinya nasihat untuk Allah ﷻ adalah membersihkan atau memurnikan hubungan kita dengan Allah, yakni dengan memenuhi hak-hakNya.
_[Untuk lebih rinci baca syarah kitab Hadits Arbain karya Syaikh Shalih Alu Syaikh]_

📌Maka tentunya nasihat yang kita ungkapkan di media sosial, mesti disampaikan dengan kejernihan hati, keikhlasan, dan menginginkan kebaikan kepada saudara kita.
Sama sekali bukan untuk merusak ukhuwah, setiap dialog yang kita lakukan mesti diiringi dengan kejernihan hati, karena menginginkan kebenaran dan objektif, tidak subjektif.
Standarnya bukan suka dan tidak suka, tapi ukurannya adalah haq dan bathil.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu pernah berkata:

*“Terimalah kebenaran itu walaupun jauh dan pahit kau rasakan, dan tolaklah kebatilan itu walaupun dekat dan manis kau rasakan”.*

═══ ¤❁✿❁¤ ═══

Bahir Community
Bahir_id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HUKUM ZIARAHNYA WANITA KE KUBUR?

_Seri : fikih wanita_

*🌷HUKUM ZIARAHNYA WANITA KE KUBUR?🌷*

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Apa hukumnya wanita berziarah kubur?”.

Jawaban.
Wanita adalah saudara kandung lelaki. Maka apa yang dibolehkan bagi lelaki maka dibolehkan pula bagi wanita. Dan apa yang disunnahkan bagi lelaki maka disunnahkan pula bagi wanita, kecuali hal-hal yang dikecualikan oleh dalil yang bersifat khusus.

Dalam masalah wanita ziarah ke kubur tidak ada dalil khusus yang mengharamkan wanita berziarah kubur dengan pengharaman secara umum. Bahkan diriwayatkan dalam ‘Shahih Muslim’ bahwa Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha tidur bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam-diam dari tempat tidurnya menuju pekuburan Baqi’ untuk memberikan salam kepada mereka (jenazah-jenazah kaum muslimin -pent-). Dan Aisyah pun ikut membuntuti di belakang beliau secara diam-diam.

Ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan pelan, iapun pelan, ketika beliau cepat, iapun cepat, hingga sampai kembali ke tempat tidurnya. Kemudian beliau masuk ke kamarnya dan melihat Aisyah dalam keadaan terengah-engah. Beliau berkata kepada Aisyah : “Ada apa denganmu wahai Aisyah ? Apakah engkau curiga bahwa Allah dan Rasul-Nya akan curang terhadapmu ? Sesungguhnya tadi Jibril mendatangiku dan berkata : “Sesungguhnya Rabbmu menyampaikan salam kepadamu dan memerintahkanmu untuk mendatangi Baqi’ dan memintakan ampunan untuk mereka (ahli kubur)”.

Dalam suatu riwayat lain di luar As-Shahih, Aisyah berkata : Apalah aku bila dibandingkan denganmu wahai Rasulullah ! Kemudian lanjut Aisyah : -sebagaimana dalam As-Shahih- “Wahai Rasulullah! Jika aku berziarah kubur maka apa yang harus aku ucapkan ? Beliau bersabda : “Ucapkanlah …. (beliau mengucapkan doa salam kepada ahli kubur sebagaimana yang telah kita kenal).

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”

Adapun hadits.

لَعَنَ اللّهُ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Allah melaknat para wanita yang sering mendatangi kubur”.

Hanyalah berlaku saat di Makkah. Kita berpegang dengan hadits yang sudah terkenal.

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ أَلاَ فَزُرُوْهَا

” Dahulu aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian”.

Dan tidak ‘syak’ lagi bahwa larangan tersebut bukan di Madinah akan tetapi di Makkah, karena mereka baru saja keluar dari kesyirikan. Tidak mungkin larangan ini terjadi di Madinah.

Adapun perkataan beliau : “Sekarang berziarahlah kalian”, besar kemungkinan ini terjadi di Makkah. Akan tetapi sama saja apakah di Makkah atau di Madinah, yang jelas izin menziarahi kubur terjadi setelah larangan ziarah di Makkah. Dan hal ini memberikan suatu konsekuensi penting bagi hadits Aisyah di atas. Karena jika sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Dahulu aku pernah melarang kalian ….” terjadi setelah Aisyah, maka mungkin hadits Aisyah di ‘nasakh” (hapus), tetapi ini terlalu jauh sekali.

Pendapat yang kuat adalah beliau melarang mereka berziarah kubur ketika di Makkah, kemudian pada akhir masa Makkah atau awal masa Madinah, beliau membolehkan ziarah kubur.

Yang jelas dan yang harus kita ketahui bahwa larangan tersebut ditujukan untuk lelaki dan wanita. Maka izin (untuk kembali berziarah kubur) juga untuk laki-laki dan wanita. Kalau begitu kapan berlakunya hadits.

لَعَنَ اللّهُ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Allah melaknat wanita-wanita yang sering menziarahi kubur”

Jika hadits tersebut keluar setelah izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita untuk berziarah kubur, berarti terjadi penghapusan hukum dua kali (dilarang, lalu dibolehkan, dan akhirnya dilarang lagi). Hal seperti ini tidak pernah kita jumpai dalam hukum-hukum syari’at yang di ‘mansukh’.

Baiklah ! kita anggap saja sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Allah melaknat wanita-wanita yang sering menziarahi kubur” keluar setelah beliau menginzinkan pria dan wanita berziarah kubur. Tapi bagaimana dengan hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah memberikan izin kepada Aisyah untuk berziarah kubur ? Apakah izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini terjadi setelah hadits laknat di atas ? Atau sebelumnya ?

Pendapat yang kuat menurut kami adalah bahwa izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sebelum hadits “laknat terhadap perempuan-perempuan tukang berziarah”.

Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa yang dilarang adalah perempuan yang berlebih-lebihan dan terlalu sering berziarah. Sangat tidak mungkin ziarah ini haram bagi wanita, sementara Sayyidah Aisyah kerap kali berziarah kubur, sampai sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

•••
■ Syaikh Muhammad Nashiruddin
■ Almanhaj

○○○○●○○○○●○○○○●○○○○●○○○○●○○○○

■ Bahir Whatsapp Group
■ Ig : Bahir_id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Doa penutup setelah baca AlQuran

Penjelasan menarik mengenai bacaan penutup setelah membaca Al Qur’an.
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله.
أما بعد: فإنَّ إحياء السنن النبوية من أعظم القربات إلى الله،
Sesungguhnya menghidupkan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk amal yang sangat bernilai untuk mendekatkan diri kepada Allah.
فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ، قَالَ: (( مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا )) [رواه مسلم].
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan maka baginya pahala semua orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim).
فإليكم أحبتي في الله، هذه السُّنة التي غفل عنها كثيرٌ من الناس:
Saudaraku, berikut ini adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah dilalaikan oleh banyak orang.
يُسْتَحَبُّ بعد الانتهاء من تلاوة القرآن أن يُقال:
((سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ)).
Setelah selesai membaca al Qur’an dianjurkan untuk mengucapkan bacaan berikut ini: Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. Yang artinya: maha suci Engkau ya Allah sambil memuji-Mu. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
الدليل: عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟
قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))([]).
Dalilnya, dari Aisyah beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- duduk di suatu tempat atau membaca al Qur’an ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat”. Akupun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Ya Rasulullah, tidaklah anda duduk di suatu tempat, membaca al Qur’an ataupun mengerjakan shalat melainkan anda akhiri dengan beberapa kalimat?” Jawaban beliau, “Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. ”
) إسناده صحيح: أخرجه النسائي في “السنن الكبرى” (9/123/10067)، والطبراني في “الدعاء” (رقم1912)، والسمعاني في “أدب الإملاء والاستملاء” (ص75)، وابن ناصر الدين في “خاتمة توضيح المشتبه” (9/282).
Hadits di atas sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunan Kubro 9/123/1006, Thabrani dalam ad Du-a no 1912, Sam’ani dalam Adab al Imla’ wa al Istimla’ hal 75 dan Ibnu Nashiruddin dalam Khatimah Taudhih al Musytabih 9/282.
وقال الحافظ ابن حجر في “النكت” (2/733): [إسناده صحيح]، وقال الشيخ الألباني في “الصحيحة” (7/495): [هذا إسنادٌ صحيحٌ أيضاً على شرط مسلم]، وقال الشيخ مُقْبِل الوادعي في “الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين” (2/12: [هذا حديثٌ صحيحٌ
Al Hafizh Ibnu Hajar dalam an Nukat 2/733 mengatakan, “Sanadnya shahih”. Syaikh al Albani dalam Shahihah 7/495 mengatakan, “Sanad ini adalah sanad yang juga shahih menurut kriteria Muslim”. Syaikh Muqbil al Wadi’I dalam al Jami’ al Shahih mimma laisa fi al Shahihain 2/12 mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang shahih”.
وقد بَوَّبَ الإمام النسائي على هذا الحديث بقوله: [ما تُختم به تلاوة القرآن].
Hadits ini diberi judul bab oleh Nasai dengan judul “Bacaan penutup setelah membaca al Qur’an”.

Dapat dr situs ustadz Aris

Wallahu a'lam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kajian salaf diTolak,lawan atau Diam

_*Seri AQIDAH*_

*KAJIAN SALAF DITOLAK, DILAWAN ATAU DIAM..?*

✏Oleh:
DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى 

Akhir akhir ini, kajian salaf semakin semarak, dan menjangkau semua lapisan. Berbagai media, dan sarana mulai dimanfaatkan yang berdampak pertumbuhan dan penyebaran dakwah salaf semakin pesat. Semua itu tentu semata mata berkat pertolongan dan karunia Allah, bukan karena kehebatan atau jasa seseorang atau kelompok tertentu. Hanya Allah yang pantas dipuji atas semua kebaikan ini.

Dakwah salaf, ya benar dakwah salaf, seruan untuk kembali memurnikan ajaran Islam yang hanya berlandaskan kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Dan pada level penerapan berbagai syari’at keduanya senantiasa bercermin kepada keteladanan generasi terdahulu, dari kalangan para sahabat, tabiin dan ulama’-ulama’ setelah mereka yang benar-benar mumpuni, jauh dari aspek fanatik golongan atau kelompok, atau figur tertentu, rekayasa atau modifikasi atau normalisasi agama, karena Islam telah sempurna sehingga tidak butuh kepada segala hal di atas. Bahkan sebaliknya segala budaya, undang undang, tatanan masyarakat atau lainnya harus beradaptasi dengan Syari’at Islam. Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maidah 3)

Inilah yang dimaksud dari memurnikan Islam, dan dengan cara inilah Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin benar benar menjadi kenyataan.

Namun demikian, telah menjadi sunnatullah bahwa siapapun diri anda dan apapun amalan atau keyakinan anda, pasti ada saja orang-orang yang memusuhi dan membenci anda. Jika anda adalah orang baik paling baik, orang Islam paling sempurna keislamannya maka sadarilah bahwa ada saja orang yang membenci dan bahkan dengan lantang mengobarkan permusuhan kepada anda, yaitu orang buruk paling buruk atau orang kafir paling kafir.

Dan bila anda adalah seorang muslim yang kadang baik dan kadang hanyut dalam nafsu dan kebodohan, maka sadarilah bahwa pasti ada orang yang membenci dan memusuhi anda. Dan bisa jadi diantara yang memusuhi anda ialah sesama orang Islam yang juga kadang baik dan kadang hanyut dalam nafsu dan kebodohannya. Allah Ta’ala berfirman :

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka dengan sebahagian yang lain.” (Al An’am 53)

Dan sudah barang tentu orang kafir dan bahkan orang kafir paling kafir juga turut membenci dan memusuhi anda.

Kalau anda bertanya, lalu bagaimanakah agar anda bisa selamat dari permusuhan dan kebencian orang lain?

Jawabannya: tidak ada, karena inilah dunia dan demikianlah sunnatullah.

Lalu bagaimana solusinya? Benarkah anda ingin tahu solusinya? Simak jawabannya langsung dari Allah Ta’ala :

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar ? dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.” (Al Furqan 20)

Ya betul, sabar itulah solusinya, sabar ketika mendapat cobaan dan ditimpa kesusahan sehingga cobaan itu tidak menyebabkan anda terhenti dari mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan kebenaran.

Dan sabar ketika menghadapi godaan nafsu dan bisikan setan sehingga anda tidak menyimpang dari jalan kebenaran dan terperangkap dalam dosa dan maksiat.

Sabar sehingga anda istiqomah dalam mempelajari, lalu mengamalkan dan mendakwahkan kebenaran, tidak putus asa dan tidak congkak.

Menuruti emosi, rasa kesal, amarah bukanlah solusi, membalas kejahatan dengan tindakan serupa bukan pula solusi walaupun dibolehkan. Solusinya hanya ada satu yaitu sabar, Allah Ta’ala berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fusshilat 34)

*Sabar, benar hanya sabar solusinya,* terlebih bila yang mengganggu atau mengusik laju dakwah anda ternyata adalah orang yang serupa dengan anda, sesama ummat Islam, yang banyak memiliki persamaan dengan anda walau banyak pula perbedaannya.

Kalau anda berkata: ooh cemen, kenapa mesti penakut, mereka menggunakan kekerasan, kita juga berani melakukannya. Kita yakin benar mengapa takut?

Inilah nafsu dan emosi, kebodohan dan nafsu dilawan dengan yang serupa, kalau anda merasa kesal, dan tidak kuasa menahan amarah, maka sadarilah bahwa memang dakwah ini besar dan hanya orang orang yang berjiwa besar yang kuasa memikulnya dengan sebenarnya. Anda tersinggung? Tenang sobat, baca dulu ayat berikut:

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai karunia yang besar (dari Allah)” (Fusshilat 35)

Kalau anda berkata: alah, lawan saja, kenapa mesti takut mati, bukankah kita berada pada pihak yang benar dan membela kebenaran? Betul sobat, namun sadarkah bahwa anda berada pada pihak yang benar bukan berarti serta merta menjadi alasan untuk membuka pintu kekacauan yang lebih besar apalagi hingga terjadi pertumpahan darah.

Ketahuilah, bila dua kelompok masa telah berhadap hadapan, maka sangat dengan mudah bagi pemancing di air keruh, yang bisa saja menyusup di barisan anda atau barisan mereka, memanfaatkan kesempatan. Mereka memulai dengan melempar batu, dan akhirnya anda merasa diserang dan merasa perlu mempertahankan diri atau bahkan membalas. Dan bisa jadi sebaliknya “tikus” sengaja menyusup di barisan anda memulai melempar batu, dan akhirnya mereka merasa diserang dan perlu membalas dan mempertahankan diri. Bila seperti ini kejadiannya bagaimana coba?

Jangankah orang sehebat anda, orang sebesar sahabat Thalhah, ‘Aisyah, Azzubair, dan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum ketika berada dalam kondisi seperti ini tidak kuasa mendeteksi dan mencegah kelakuan “tikus tikus penyusup”, seperti digambarkan di atas, hingga akhirnya terjadi perang saudara antara mereka.

Bila pertumpahan darah terlah terjadi di antara kaum muslimin, siapkah anda menanggung resikonya di dunia dan di akhirat? Anda mau tahu berapa besar tanggung jawab yang harus anda pikul bila nyawa seorang muslim melayang gara gara anda? SImak sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلم

“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibanding dosa membunuh seorang muslim.” (At Tirmizy)

Ustadz, dan para panitia kajian, berpikirlah baik-baik, dan sadarilah walaupun anda adalah seorang ustadz atau seorang yang telah berratus ratus tahun mengaji, tetap saja anda adalah manusia biasa yang punya nafsu dan rentan digoda setan. Berlindunglah dari godaan setan dan belengu nafsu amarah diri anda.

Jangan kawatir sobat, saya adalah orang pertama yang saya maksudkan dari nasehat ini, semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari bisikan setan, nafsu angkara murka dan kebodohan. Ya Allah limpahkanlah hidayah-Mu untuk seluruh ummat Islam dan seluruh ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Wallahu Ta’ala A’alam Bisshawab.

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

Bahir Community
Bahir_id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fatwa aqidah

_*SERI FATWA AQIDAH*_

*MERASA PESIMIS / SIAL PADA BULAN, HARI, BURUNG DAN SEMISALNYA*

Fatwa Lajnah Daimah Nomor: 10775

❓ *PERTANYAAN:*

▫Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua.

✅🌈 *JAWABAN:*

▪Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar, hal itu termasuk merasa pesimis (sial) pada bulan tersebut. *Dan merasa sial pada bulan, hari atau karena burung dan lain sebagainya itu tidak boleh*,

📜 Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:  
*"Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah (pesimis/takhayul),"*

▪Tidak ada burung hantu (yang diyakini oleh orang Jahiliyah bahwa apabila bersuara di atas rumah salah seorang di antara mereka, maka penghuni rumah tersebut akan meninggal), dan tidak ada Safar (bulan yang diyakini orang Jahiliyah penuh bala) Merasa sial pada bulan Safar termasuk thiyarah (pesimis/takhayul) yang dilarang, karena hal ini termasuk keyakinan orang-orang Jahiliyah, dan Islam telah membantahnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

📇 *Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa*

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazzaq `Afifi
Aggota: Abdullah bin Ghadyan

○○○○●○○○○●○○○○●○○○○●○○○○●○○○○

■ Bahir Whatsapp Group
■ Ig : Bahir_id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Shalat gaya munafik

_Seri : Aqidah_

🐚 *Shalat Asar Gaya Munafik* 🐚

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

“Itulah shalatnya orang munafik, sengaja menunda-nunda shalat asar, sampai mendekati maghrib.”

Shalat asar memiliki kedudukan istimewa dalam islam. Karena shalat asar termasuk bentuk dzikir, mengingat Allah di waktu sore.

Allah berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustho. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.
(QS. al-Baqarah: 238).

Setelah Allah memerintahkan untuk menjaga semua shalat, Allah perintahkan untuk menjaga shalat wustho. Perintah itu Allah sendirikan menunjukkan adanya penekanan untuk shalat wustho.

⭕ *Apa itu shalat wustho?*

Yang dimaksud shalat Wustho adalah shalat asar, menurut pendapat mayoritas sahabat dan tabi’in. serta pendapat mayoritas ahli hadis. Ibnu Katsir menyebutkan, ini adalah pendapat Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Abu Ayub, Abdullah bin Amr, Samurah bin Jundub, Abu Hurairah, Abu Said, Hafshah, Ummu Habibah, Ummu Salamah. Serta pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Aisyah, menurut riwayat yang shahih dari mereka.

Karena itu, sangat ditekankan agar shalat asar dikerjakan di awal waktu. Dan ini bagian dari upaya menjaga shalat asar.

🕰 *Batas Waktu Shalat Asar*

Dalam shalat, ada batas awal dan batas akhir.

Batas awal shalat asar adalah ketika panjang bayangan sama dengan tinggi bendanya.

🔍 Sementara batas akhir shalat asar ada 2:

⏰ Batas ikhtiyari

Batas ikhtiyari adalah batas dimana orang dibolehkan untuk melakukan shalat asar dari sejak masuk waktu sampai masuk batas ikhtiyari. Dalam arti, ketika dia melakukan shalat di rentang itu, dia tidak dianggap berdosa.

Batas ikhtiyari shalat asar adalah sesaat sebelum matahari menguning.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ

“Waktu asar, selama matahari belum menguning” (HR. Ahmad 6966 & Muslim 1417)

⏰ Batas dharuri

Batas dharuri artinya rentang waktu di mana jika ada seseorang yang melakukan shalat asar di waktu itu, maka dia berdosa, kecuali dalam kondisi dharurat atau ada udzur.

Batas waktu dharuri dimulai sejak matahari menguning, sampai matahari terbenam.

Dalilnya, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ

Siapa yang mendapat satu rakaat ketika shalat asar sebelum matahari terbenam, dia dianggap telah mendapatkan shalat asar (shalat asarnya sah).
(HR. Muslim 1404).

⛔ *Shalat di Waktu Dharuri tanpa Udzur*

Jika ada orang yang shalat di waktu dharuri tanpa udzur, maka dia berdosa. Meskipun shalatnya sah. Dia berdosa karena telah meremehkan shalat asar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut shalatnya orang munafik. Dia secara sengaja menunda-nunda waktu shalat, hingga mendekati berakhirnya waktu shalat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

Itulah shalatnya orangn munafik.. duduk santai sambil lihat-lihat matahari. Hingga ketika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), dia baru mulai shalat, dengan gerakan cepat seperti mematuk 4 kali. Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit. (HR. Muslim 1443 & Ahmad 11999).

Kami ingatkan, agar setiap muslim berusaha menjaga shalat asaar di awal waktu, dan jangan sampai menunda shalat asar hingga matahari telah menguning, atau bahkan mendekati waktu terbenam tanpa alasan yang dibenarkan. Tentu kita tidak ingin dikategorikan seperti orang munafik.

Allahu a’lam.

○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

▫ustadz Ammi Nur Baits
▫rumaysho

○○○●○○○●○○○●○○○●○○○●○○○●

▫BAHIR Whatsapp Group
▫instagram : bahir_id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Allah Benci Orang Gendut

_Seri : adab_

🌸 *ALLAH BENCI ORANG GENDUT* 🌸

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Ada beberapa dalil yang menunjukkan celaan bagi orang gemuk karena banyak makan. Diantaranya,

Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan”. (HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik umatku adalah masyarakat yang aku di utus di tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya. Kemudian datang kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.” (HR. Muslim 6636 dan Ahmad 7322)

Keterangan al-Qurthubi (w. 671 H)

Ketika menyebutkan hadis di atas, beliau mengatakan,

Hadits ini adalah celaan bagi orang gemuk. Karena gemuk yang bukan bawaan penyebabnya banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu tenang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya sendiri dan bukan hamda bagi Tuhannya, orang yang hidupnya seperti ini pasti akan terjerumus kepada yang haram…

Allah mencela orang kafir yang hidupnya hanya makan, seperti binatang. Allah berfirman,

“Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad:12)

Al-Qurthubi juga menegaskan, tradisi banyak makan, hobi kuliner, adalah kebiasaan orang kafir. Beliau melanjutkan,

Allah mencela orang kafir karena banyak makan. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.”

Karena itu, apabila ada orang mukmin yang meniru tradisi mereka, dan menikmati segala kenikmatan dunia setiap saat, lantas dimana hakikat imannya dan pelaksanaan Islam pada dirinya?!  Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka ia akan semakin rakus dan tamak, bertambah malas dan banyak tidur di malam hari. Siang harinya dipakai untuk makan dan minum, sedangkan malamnya hanya untuk tidur. (Tafsir al-Qurthubi, 11/67).

Hadis lain yang menunjukkan celaan bagi gemuk,

Dari Ja’dah bin Khalid, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada orang gendut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk perutnya,

Andai gendut ini tidak di sini, nscaya itu lebih baik bagimu. (HR. Ahmad 15868, dan sanadnya didhaifkan Syuaib al-Arnauth).

Kemudian dalam hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma,

Suatu ketika ada orang bersendawa di dekat Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menegurnya,

Jangan keras-keras sendawanya, sesungguhnya orang yang paling sering kenyang di dunia, dia paling lama laparnya di akhirat. (HR. Turmudzi 2666 dan dihasankan al-Albani)

Kemudian, disebutkan pula dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menceritakan salah satu model manusia yang disiksa di hadapan seluruh makhluk,

Sesungguhnya akan didatangkan seseorang yang sangat besar dan gemuk pada hari kiamat, akan tetapi timbangannya di sisi Allah tidak seberat sayap nyamuk. Bacalah firman Allah, (yang artinya), “Dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”

(HR. Bukhari 4729 & Muslim 7222).

Ketika menyebutkan hadis di atas, an-Nawawi mengatakan,

“Timbangannya di sisi Allah tidak seberat sayap nyamuk” artinya beratnya dan nilainya tidak menyamai sayap nyamuk, artinya tidak ada nilainya. Di sini terdapat celaan bagi kondisi gemuk. (Syarah sahih Muslim, 17/129)

*Celaan Imam as-Syafii kepada Orang Gemuk*

Dari Hasan bin Idris al-Halwani menyatakan bahwa beliau mendengar komentar Imam as-Syafii tentang orang gemuk,

Sama sekali tidak akan beruntung orang yang gemuk, kecuali Muhammad bin Hasan As-Syaibany (Gurunya as-Syafi’i).

Beliau ditanya, “Mengapa demikian?”

Jawab beliau,

Karena seorang yang berakal tidak lepas dari dua hal; sibuk memikirkan urusan akhiratnya atau urusan dunianya, sedangkan kegemukan tidak terjadi jika banyak pikiran. Jika seseorang tidak memikirkan akhiratnya atau dunianya berarti dia sama saja dengan hewan, jadilah gemuk. (Hilyah al-Auliya’, 9/146).

*Gemuk yang Tidak Tercela*

Bagian ini yang dikecualikan, gemuk yang tidak tercela. Gemuk bukan karena malas-malasan, dan bukan karena terlalu banyak makan. Dia tetap menjadi pahlawan bagi umat, dan berusaha melakukan aktivitas yang bermanfaat. Sebagaimana yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di penghujung usia beliau dan beberapa sahabat lainnya.

Aisyah menceritakan,

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan witir 9 rakaat, setelah beliau mulai gemuk dan berdaging, beliau shalat 7 rakaat. Kemudian shalat 2 rakaat sambil duduk. (HR. Ahmad 26651 dan Bukhari 4557).

Dari Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma,

Saya bertanya kepada pamannya, Ibnu Abi Halah tentang ciri fisik Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang badannya besar. (as-Syamail al-Muhammadiyah Turmudzi, 1/34).

Sebagian menafsirkan kata: fakhman mufakhaman dengan gemuk.

Mula Ali Qori mengatakan,

Riwayat yang menunjukkan bahwa Allah membenci orang gemuk, dipahami jika gemuk ini terjadi karena kelalaian, terlalu banyak menikmati kenikmatan lahir, sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat tentang kebencian bagi orang gendut. (Jam’ul Wasail fi Syarh as-Syamail, 1/34).

Allahu a’lam.

•••
■ ustadz Ammi Nur Baits
■ konsultasisyariah

○○○○●○○○○●○○○○●○○○○●○○○○●○○○○

■ Bahir Whatsapp Group
■ Ig : Bahir_id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS