Akun save. Diberdayakan oleh Blogger.

.

RSS

Penyebab Batalnya Shaum atau Puasa

🌸 *رمضان المبارك* ❄

_Seri Fiqh Ramadlan - 5 : Hal hal yang Membatalkan Shaum_

Yang Membatalkan Shaum dan Wajib Qodlo :

🌱 *1. Makan dan Minum dengan sengaja*

Jika seseorang makan karena lupa, khilaf atau terpaksa; maka tidak wajib baginya qodlo dan kifarat. Dari Abu Hurairah RA. bahwasanya Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam bersabda,

مَنْ نَسِيَ ، وَهُوَ صَائِمٌ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ؛ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللّٰه وَ سَقَاهُ

_"Barangsiapa lupa, padahal ia shaum, kemudian makan dan minum, maka hendaklah ia tetap sempurnakan shaumnya. Sesungguhnya Allaah telah memberinya makan dan minum"_ (HR. Bukhari [3/40], Muslim No. 171, At-Tirmidzi No. 721, dan ia berkata, "hadits hasan shohih")

Rasulullaah SAW juga bersabda,

مَنْ أَفْطَرَ فِيْ رَمَضَان نَاسِيًا، فَلَا قَضَاء عَلَيْهِ، وَ لَا كَفَّارَة

_"Barangsiapa yang berbuka karena lupa, maka tidak wajib baginya Qodlo, atau Kifarat"_ (HR. Al-Bayhaqi No. 8074. Ibn Hajar berkata : sanadnya shohih)

Madzhab Hanafi dan Maliki memandang, seseorang yang makan dan minum di bulan Ramadlan tanpa udzur dan dengan sengaja, wajib baginya qodlo dan kifarat. (Al Mawsu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 60/28)

🌱 *2. Muntah dengan sengaja( _al qoy-u 'amdan/القَيْءُ عَمْدًا_ )*

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, Rasul SAW bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ، فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاء، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا، فَلْيَقْضِ.

_"Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya qodlo(jika sedang shaum); namun yang muntah dengan sengaja, maka wajib baginya qodlo"_ (HR. Ahmad No.10463, At-Tirmidzi No. 720. Dishahihkan oleh Al Hakim)

🌱 *3. Haidl dan Nifas*

Dari Mu'adzah, ia berkata : Aku bertanya pada 'Aisyah r.anha, "Mengapa haidl mengharuskan seorang perempuan meng-qodlo shaumnya, tapi tidak meng-qodlo sholatnya?". Ibunda 'Aisyah menjawab,
كَانَ يُصِيْبُنَا ذلك مع رسول الله، فنؤمر بقضاء الصوم، و لا نؤمر بقضاء الصلاة.

_"Hal itu(haidl) pernah  menghinggapi kami tatkala bersama Rasulullaah SAW, dan kami diperintahkan untuk meng-qodlo shaum, tetapi tidak diperintahkan untuk meng-qodlo sholat"_ (HR. Bukhari[1/88], Muslim No. 69, At-Tirmidzi No. 130)

🌱 *4. Berlezat-lezat hingga keluar mani( _al Istimna/الإستمناء_ )*

Maksudnya, jika keluar mani disebabkan suami mencium istrinya, atau memeluk serta merabanya, maka batal shaumnya dan wajib qodlo. Termasuk dalam hal ini onani/masturbasi; dengan tangan sendiri, tangan istrinya atau dengan alat alat. Itu semua membatalkan shaum dan mewajibkannya qodlo (lihat, Kifayatul Akhyar, Kitab As-Shiyam, Hal. 202)

Menurut madzhab Maliki, tidak hanya wajib qodlo, namun juga wajib kifarat (Al Mawsu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 28/32)

Adapun keluar mani sebab khayalan atau sekedar memandang, maka tidak membatalkan shaum. Tapi tentu akan merusak pahala shaum, jika sengaja.

🌱 *5. Memasukkan barang apapun ke dalam bagian lubang dalam tubuh, seperti telinga, hidung, dubur dan qubul.*

Termasuk diantaranya merokok, atau _ihtiqon_(berobat dengan memasukkan sesuatu ke dalam dubur) menurut mayoritas 'ulama membatalkan shaum. (Al Mawsu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 38/28)

🌱 *6. Niat membatalkan shaum*

Meski tidak makan dan minum, namun jika ia berniat membatalkan shaumnya, maka batallah shaumnya. Sebab, niat adalah rukun shaum(Fiqh As-Sunnah, Hal. 527); dan niat bagian dari amal, sebagaimana hadits riwayat 'Umar "Sesungguhnya amal tergantung niatnya". (lihat, Al Mawsu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 61/28)

🌱 *7. Jima' (Berhubungan badan) dengan sengaja. Tidak hanya wajib qodlo, namun juga wajib kifarat*

Wajib bagi mereka yang berjima' dengan sengaja, qodlo dan kifarat. Baik laki laki(suami) maupun perempuan(istri). Hal ini berdasarkan hadits, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

_"Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “Wahai, Rasulullah, celaka !” Beliau menjawab,”Ada apa denganmu?” Dia berkata,”Aku berhubungan dengan istriku, padahal aku sedang berpuasa.” (Dalam riwayat lain berbunyi : aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadlan). Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam berkata,”Apakah kamu mempunyai budak untuk dimerdekakan?” Dia menjawab,”Tidak!” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,”Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi : “Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Rasulullah diam sebentar. Dalam keadaan seperti ini, Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam diberi satu ‘aroq berisi kurma –Al aroq adalah alat takaran- (maka) Beliau berkata: “Mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab,”Saya orangnya.” Beliau berkata lagi: “Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!” Kemudian orang tersebut berkata: “Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di dua ujung kota Madinah satu keluarga yang lebih fakir dari keluargaku”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berka “Berilah makan keluargamu!”_(Muttafaq 'Alayhi).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar