🌷 *SEPULUH KAIDAH TAZKIYATUN NAFS (MENSUCIKAN JIWA)*
Penulis: Syaikh Abdurrazzaq al-badr hafizhahullah.
Penerjemah: Siroj Hardian
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam kepada semulianya dan penutup para Nabi dan Rasul, Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tauladan kita, dan penyenang hati kita Muhammad bin Abdullah, al-Hadi (seorang pemberi petunjuk) dan al-Amiin (kepercayaan), dan kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat.
Mensucikan jiwa adalah perkara yang sangat penting, makanya orang berakal akan melakukan amalan yang akan mensucikan jiwanya, dan akan berhati-hati pada perkara-perkara yang akan menjadikan jiwanya menjadi kotor.
Asal kata Tazkiyah artinya menumbuhkan, mengembangkan, memperbaiki, membersihkan, menghias, mensucikan dan menjadikannya jadi baik serta bertambah baik.
Kerendahan jiwa yaitu saat seseorang meneggelamkan jiwanya dalam hal yang rendah, hina, perbuatan dosa dan maksiat.
Allah Ta'ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 9-10)
Dalam ayat ini disebutan pembagian jiwa yaitu jiwa yang suci dan jiwa yang kotor. Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah menjelaskan sifat jiwa, beliau berkata; Jiwa yang mulia adalah jiwa yang tidak akan rela untuk jatuh pada perbuatan kezhaliman, kejelekan, dan bersama dengan itu jiwanya akan mencari perkara tinggi (amalan yang mulia). Sedangkan Jiwa yang kotor adalah jiwa yang akan senantiasa mencari perkara-perkara yang kotor pula yaitu melakukan perbuatan yang buruk. Sebagaimana lalat hanya akan hinggap pada hal-hal yang kotor saja. (Al-Fawaa-id, hal. 178)
Karena pentingnya hal ini maka hendaknya seorang muslim senantiasa berusaha menempuh kaidah atau kiat-kiat dalam membersihkan jiwanya agar selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat.
SEPULUH KAIDAH DALAM TAZKIYATUN NAFS
Berikut ini sepuluh kiat dalam mensucikan jiwa:
1. Tauhid Sebagai Intisari dalam Pensucian Jiwa.
Tauhid adalah Kunci utama menjadikan jiwa menjadi suci mulia lagi tinggi. Karena tauhid Allah Ta'ala menciptakan alam dan manusia untuk merealisasikan tauhid ini.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ.
Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Karena Tauhid para Nabi dan Rasul diutus dan karena Tauhid pula kitab-kitab di turunkan sebagai pedoman bagi manusia.
Oleh karenanya, hendaknya para da'i menjadikan Tauhid sebagai hal yang pertama yang di dakwahkan. Sebagaiman pesan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu yang akan memulai dakwah di daerah yaman.
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى.
Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah. (HR. Al-Bukhari)
Kebalikan dari itu, Sungguh Allah Ta'ala mengancam orang-orang yang tidak mau mensucikan jiwanya dengan Tauhid, atau dengan kata lain berbuat kesyirikan kepada-Nya.
Artinya Perkara yang paling mudah dalam mengotori hati yaitu kesyirikan (yang merupakan lawan dari Tauhid), makanya jika kesyirikan ada pada hati seseorang maka akan menghapus segala amalannya.
Allah Ta'ala Berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65).
Sedangkan kesyirikan juga merupakan dosa yang paling besar, yang tidak diampuni Allah hingga dia bertaubat dengan taubat nashuha.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang dibawahnya dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An-Nisa: 48).
Oleh karena itu sungguh tidak mungkin seseorang bisa membersihkan jiwanya kecuali dengan tauhid dan membersihkan diri dari perbuatan kesyirikan.
Insya ALLAH bersambung..
🌷 *SEPULUH KAIDAH TAZKIYATUN NAFS (MENSUCIKAN JIWA)*
(Bagian kedua)
Penulis: Syaikh Abdurrazzaq al-badr hafizhahullah.
Penerjemah: Siroj Hardian.
*Kaidah kedua: Berdoa adalah kunci dalam mensucikan jiwa.*
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ.
Tidak ada perkara yang lebih mulia dari mensucikan jiwa seperti do'a.
Do'a merupakan ibadah yang paling mulia disisi Allah Ta’ala. Do’a adalah kunci dalam meraih kebaikan dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala telah berjanji akan mengabulkan do’a hambanya, sebagaimana firman-Nya:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ.
Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (Ghafir: 60)
Juga firman-Nya:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
Umar bin al-Khaththab Radhiyallaah ‘anhu berkata: Aku tidak pernah mengkhawatirkan akan dikabulkannya do’a-do’a, akan tetapi yang aku khawatirkan apakah akan tetap berdo’a atau tidak? Karena jika do’a dilalaikan maka pengabulannya juga terlalaikan.
Maka jika ingin mensucikan jiwa perbanyaklah berdo’a yang berasal dari tuntunan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berkenaan dengan pensucian hati.
Diantara doa yang diajarkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها.
Allahumma aati nafsii taqwaaha, wazakkihaa anta khairu man zakkaaha, anta waliyyuhaa wa maulaaha. (Ya Allah, berikanlah ketakwaan dalam jiwaku, sucikanlah jiwaku, Engkaulah yang terbaik dalam mensucikan jiwa, karena engkaulah penolong dan penguasa jiwaku)
Do’a di atas sebagai isyarat untuk kita bahwa urusan pensucian jiwa manusia semuanya ada di tangan Allah Ta’ala, Dia yang mengetahui setiap yang gha’ib, dan do’a adalah kunci terbesar, serta merendahkan diri dihadapan Allah Ta’ala.
Makanya do’a yang paling sering Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ucapkan adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ.
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu. [HR. at-Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shahiih Sunan at-Tirmidzi III no.2792]
Hal yang dapat membuat kita semangat ketika berdo’a yaitu keyakinan akan kesucian hati itu hanyalah sesuai dengan kehendak dan izin Allah Ta'ala, Allah Ta'ala-lah yang memberikan kesucian terhadap jiwa seseorang, makanya jika ingin jiwa menjadi suci maka perbanyak berdo’a kepada Allah Ta'ala.
Firman Allah Ta'ala:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ.
Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An-Nuur: 21)
Insya ALLAH bersambung..
🌷 *SEPULUH KAIDAH TAZKIYATUN NAFS (MENSUCIKAN JIWA)*
(Bagian Ketiga)
Penulis: Syaikh Abdurrazzaq al-badr hafizhahullah.
Penerjemah: Siroj Hardian.
*Kaidah ketiga: Al-Quran Adalah Sumber Pensucian Jiwa.*
Allah Ta'ala berfirman:
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ.
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah: 151)
Dan Allah juga berfirman:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ.
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran: 164)
Maka sebaik-baiknya yang dapat membersihkan hati kita adalah Al-Qur’an, barangsiapa yang ingin mensucikan hatinya maka bacalah Al-Quran, pahamilah maknanya (sesuai pemahaman Nabi dan para sahabatnya), dan amalkan isi kandungannya. Karena barangsiapa yang melakukan demikian maka Allah akan menjaminnya dengan memberi petunjuk ke jalan yang benar dan dijauhkan dari kesesatan.
Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata:
ضَمِنَ اللَّهُ لِمَنِ اتَّبَعَ الْقُرْآنَ أَنْ لاَ يَضِلَّ فِي الدُّنْيَا، وَلاَ يَشْقَى فِي الآخِرَةِ، ثُمَّ تَلاَ: فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى.
Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al-Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat, kemudian beliau membaca ayat:
فَمَنَ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى.
Maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha: 123). [Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah].
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ.
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)
Fungsi para Rasul adalah membacakan dan menjelaskan ayat-ayat Allah Ta'ala dan dengan ayat-ayat tersebut para Rasul menyucikan jiwa ummatnya.
Semakin banyak seorang muslim membaca dan mengambil Al-Qur-an sebagai petunjuk maka akan semakin suci jiwanya dari kotoran hati sehingga akan semakin mulia dan tinggi pula hatinya. Seseorang yang ingin jiwanya menjadi suci maka hendaknya dia membaca Al-Qur'an dengan mentadabburinya serta mengamalkan isi dari Al-Qur-an.
Semoga bermanfaat.. Barakallah fiikum.
Insya ALLAH bersambung..