Akun save. Diberdayakan oleh Blogger.

.

RSS

Ayam goreng lengkuas


Ayam Goreng Lengkuas

Bahan : 
1 ekor ayam (potong 8)
3 pasang ati ampela
10 siung bawang merah
5 siung bawang putih
2 buah kemiri
4 ruas lengkuas
1 ruas kunyit (saya pakai 1/2 sdt kunyit bubuk)
1 sdt ketumbar (saya pakai 1/2 sdm ketumbar bubuk)
1 batang sereh (geprek)
Air secukupnya (untuk ungkep ayam)
Garam secukupnya
.
.
Cara Memasak :
1. Haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, lengkuas, kunyit dan ketumbar. 
2. Siapkan baskom (mangkok) besar. Campurkan ayam dan ati ampela dengan bumbu halus dan garam. Aduk hingga rata dan diamkan selama 30 menit (lebih bagus di kulkas).
3. Siapkan wajan. Masukkan ayam yang sudah dibumbui, sereh dan air ke dalam wajan. Ungkep hingga air menyusut dan matikan api.
4. Jika ayam ungkep sudah tidak panas lagi, ayam bisa dipindahkan di wadah tertutup dan simpan di kulkas. Ini bisa tahan hingga 3 minggu. 
5. Kalau mau disajikan, goreng ayam hingga emas kecoklatan. Angkat dan sajikan. .

#resepayamlengkuas
#saveresep
#ayamgorenglengkuas
#AGL

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Biji salak

Bahan :
- 250 gr Tepung Tapioka/Kanji/Aci
- 300 gr Ubi jalar (utk hasil kuning pakainya Ubi yg dalemnya kuning ya)
- 60 ml air putih
- garam secukupnya
- gula merah secukupnya
- air utk merebus secukupnya
- daun pandan 3 lembar

Cara Membuat :
- kukus ubi hingga lembut kemudian haluskan
- siapkan wadah dan masukkan ubi + tapioka + garam lalu diulen perlahan sambil dimasukan air sedikit2
- setelah tercampur rata buat bulatan2 dgn ukuran bebas
- didihkan air bersama gula merah dan daun pandan dgn tingkatan manis dan kekentalan sesuai selera
- masukkan biji salak dan rebus sampai matang *nanti akan mengembang sendiri
- matang dan sajikan utk berbagai hidangan sesuai selera (bubur candil, es jaipong, dsb)

#kumpulanresep
#resepindonesia
#resepjajanan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cheese cake (cake keju)

Cotton Soft Japanese Cheese Cake
Source : rickeindriani_ordinarykitchen

Bahan - bahan :
60 gram terigu
20 gram maizena
50 gram butter
250 gram cream cheese, suhu ruang
100 ml susu cair
6 kuning telur
2 sdt parutan kulit jeruk lemon (Sy 1 sdm)
6 putih telur
140 gram gula pasir
1/4 sdt garam
1 sdm air jeruk lemon

Cara membuat :

1. Siapkan loyang bulat ukuran diameter 20 cm atau 22 cm. Alasi kertas roti, olesi tipis mentega. Sisihkan. Pasang oven 150 derajat celcius.
2. Campur dan ayak terigu dan maizena. Sisihkan.
3. Campur butter, cream cheese, dan susu cair. Panaskan diatas api kecil sambil diaduk rata sampai meleleh. Ga usah terlalu lama ya, asal sudah leleh dan tercampur rata langsung angkat.
4. Masukkan campuran terigu dan maizena. Aduk rata. Masukkan kuning telur. Aduk rata. Masukkan kulit jeruk lemon aduk rata. Sisihkan.
5. Kocok putih telur hingga berbusa, masukkan gula dan air jeruk lemon sedikit demi sedikit sambil terus dikocok sampai putih telur mengembang dan membentuk kerucut tumpul ketika mixer diangkat (soft peak).
6. Tuang 1/3 adonan putih telur ke dalam adonan cream cheese, aduk rata. Tuang campuran ini ke sisa adonan putih telur (teknik pancingan), aduk rata sampai homogen. Tuang adonan ke loyang, panggang dg cara au bain marie (steam bake atau pemanggangan dg menggunakan loyang air) selama kurang lebih 75 menit atau sampai permukaan cake menjadi kuning/coklat keemasan (tergantung oven masing-masing yaaaa... ada juga yang lebih lama sekitar 90 menitan). Keluarkan dari oven.
7. Setelah benar-benar dingin, lepaskan cake dari loyang. Kelupas erlahan kertas rotinya. Siap disajikan dg olesan glaze di atasnya atau diberi topping sesuai selera.

#kumpulanresep
.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Resep sate maranggi

Bahan;
*500 gr Daging kambing/daging sapi has dalam (tenderloin)

bumbu halus
- 5 butir bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 1/4 sdt merica butira
- 1sdm ketumbar
-2 cm lengkuas muda
-1 cm jahe
-  2 cm kencur
-1 buah cabe merah besar, buang bijinya

pelengkap marinade :
-3 sdm air asam jawa (sebisa mungkin buat hingga pekat
-5 sdm kecap mani
-secukupnya garam

Sambal Kecap :

1/2 cup Kecap manis

1 siung bawang putih, goreng

7 butir merica goreng
3.cabe rawit

Acar tomat
1 buah Tomat besar
3 buah bawang merah
5buah Cabe rawit
secukupnya garam+gula
secukupnya cuka makan
secukupnya tusuk sate kualitas bagus

Langkah

60 menit

Potong dadu daging kur-leb 1.5cm. Sisihkan 

Buat marinade : 
Campur bumbu halus dengan air asam dan kecap. Aduk rata.

Bumbui daging dengan bumbu marinade, aduk merata. Simpan dalm lemari es minimal 10 menit (lebih lama lebih bagus)


Buat acar tomat : 
Potong - potong tomat + cabe rawit + bawang merah sesuai selera. 
Bubuhi garam+gula dan cuka makan. Aduk merata. Simpan dalam lemari es

Buat sambal kecap : 
Haluskan bawang putih goreng + cabe rawit + merica 
Tuangi kecap manis, aduk hingga tercampur rata (jika suka bisa di beri perasan jeruk nipis)

Setelah lebih dari 10 menit, keluarkan daging dari lemari es kemudian tusuk dengan tusukan sate (1 tusuk bisa 4-5 potong daging). Lakukan sampai habis


Kemudian bakar dengan bara arang sambil di bolak balik.

Sajikan bersama sambal kecap dan acar tomat.

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pie buah


Kulit Pie
150g butter (me:margarin)
1 sdm penuh Gula Halus
2 btr Kuning Telur uk besar
250 gr Tepung Segitiga/All Purpose
Custard Vla
500 cc Susu Cair
85 gr Gula Pasir-atau sesuai selera
50 gr Tepung Custard (me : meizena)
2 butir Kuning Telur
1 sdt Vanilla/Rhum
1 sdm Butter (me : margarin)
sejumput garam
Langkah Kulit pie:
1.Campur terigu,gula,butter aduk dengan sendok kayu/pisau pastry sampai berbulir,tambahkan kuning telur,aduk rata
2. Bulat2kan adonan,lalu cetak dalam cetakan pie yang sudah dioles,tusuk garpu dasar pie supaya tidak menggelembung
3.Panggang suhu 170 derajat sampai keemasan
Langkah Vla
1.Larutkan custard powder/meizena dengan susu cair,aduk rata tambahkan Garam+gula
2.Panaskan sambil terus diaduk sampai mulai berbuih
3.Ambil 1/3 bagian cairan tuang ke wadah lain,tambahkan kuning telur,aduk rata lalu masukkan kembali ke adonan nomer 2 ,aduk sampai kental+meletup2
3.Matikan api,masukkan vanilla/rhum,tambahkan butter,aduk rata
4.Boleh ditutup plastik sampai saatnya digunakan
#piebuah
#reseppie
By tintinrayner

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puasa Arafah


*Puasa Arafah Berbeda dengan Hari Arafah*

Jika terjadi perbedaan dalam menentukan tanggal 9 Dzulhijjah, antara pemerintah Indonesia dengan Saudi, mana yang harus diikuti? Kami bingung dalam menentukan kapan puasa arafah?

*Jawab:*

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

*Pertama*, puasa arafah mengikuti wuquf di arafah.

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.

Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس

*Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah*. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)

*Kedua*, puasa arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah setempat

Karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu, ditentukan berdasarkan waktu dimana orang itu berada. Dan hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal *9 Dzulhijjah*. Sehingga penentuannya kembali kepada penentuan kalender di mana kaum muslimin berada.

*Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Utsaimin*. Beliau pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari arafah. Kita simak keterangan beliau,

Yang benar, semacam ini *berbeda-beda, sesuai perbedaan mathla’* (tempat terbit hilal). Sebagai contoh, kemarin hilal sudah terlihat di Mekah, dan hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara di negeri lain, hilal terlihat sehari sebelum Mekah, sehingga hari wukuf arafah menurut warga negara lain, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka pada saat itu, tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa. Karena hari itu adalah hari raya bagi mereka.

Demikian pula sebaliknya, *ketika di Mekah hilal terlihat lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9* di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut, maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

*Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah* puasa dan apabila melihat hilal lagi, (hari raya), jangan puasa. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, volume 20, hlm. 28)

Dari keterangan di atas, kita bisa memahami bahwa perbedaan penentuan hari arafah, kembali kepada dua pertimbangan:

*Pertama*, apakah perbedaan tempat terbit hilal (Ikhtilaf Mathali’) mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal ataukah tidak.

*Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan*, kaum muslimin di seluruh dunia disatukan. Sehingga perbedaan tempat terbit hilal tidak mempengaruhi perbedaan tanggal.

Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathali’ *mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di masing-masing daerah*. Ini meruakan pendapat Ikrimah, al-Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas.  (Fathul Bari, 4/123).

Dari dua pendapat ini, insyaaAllah yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Adanya perbedaan tempat terbit hilal, mempengaruhi *perbedaan penentuan tanggal*. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits (Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya  untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya,

Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku

“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.

“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya melihatnya dan  masyarakatpun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه

“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi,

“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).

*Kedua*, batasan hari arafah

Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa arafah adalah puasa pada hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di arafah. *Tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal* dan waktu terbitnya hilal.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah berbeda.

Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih pendapat yang benar dari dua keterangan di atas. Terlepas dari kajian ikhtilaf mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal) di atas.

Kita sepakat bahwa islam adalah agama bagi seluruh alam. Tidak dibatasi waktu dan zaman, sebelum tiba saatnya Allah mencabut islam. Dan seperti yang kita baca dalam sejarah, di akhir dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang jarak jangkaunya cukup jauh. *Mekah dan Madinah kala itu ditempuh kurang lebih sepekan*. Kemudian di zaman para sahabat, islam telah melebar hingga dataran syam dan Iraq. Dengan alat transportasi masa silam, perjalanan dari Mekah menuju ujung wilayah kaum muslimin, bisa menghabiskan waktu lebih dari sebulan.

Karena itu, di masa silam, untuk mengantarkan sebuah info dari Mekah ke Syam atau Mekah ke Kufah, harus menempuh waktu yang sangat panjang. Berbeda dengan sekarang, anda bisa menginformasikan semua kejadian yang ada di tanah suci ke Indonesia, *hanya kurang dari 1 detik*. Sehingga orang yang berada di tempat sangat jauh sekalipun, bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di arafah, dalam waktu sangat-sangat singkat.

Di sini kita bisa menyimpulkan, jika di masa silam standar hari arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf di arafah, tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang jauh dari Mekah, tidak mungkin bisa menerima info tersebut di hari yang sama, atau bahkan harus menunggu beberapa hari.

*Jika ini diterapkan*, tentu tidak akan ada kaum muslimin yang bisa melaksanakan puasa arafah dalam keadaan yakin telah sesuai dengan hari wukuf di padang arafah. Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta dengan kondisi di Mekah.

Ini berbeda dengan masa sekarang. Hari arafah sama dengan hari wukuf di arafah, bisa dengnan mudah diterapkan. Hanya saja, di sini kita berbicara dengan standar masa silam dan bukan masa sekarang. Karena tidak boleh kita mengatakan, ada satu ajaran agama yang hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi, sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam.

Oleh karena itu, *memahami pertimbangan di atas, satu-satunya yang bisa kita jadikan acuan adalah penanggalan*. Hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, dan bukan hari jamaah haji wukuf di Arafah. Dengan prinsip ini, kita bisa memahammi *bahwa syariat puasa arafah bisa dipraktekkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia* tanpa mengenal batas waktu dan tempat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/23509-puasa-arafah-berbeda-dengan-hari-arafah.html

Website : Dakwahsunnah.com
IG@belajarislam_sunnah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Free Gift


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Resep mochi



MOCHI ISI KACANG.
.
bahan :
200 gr  tepung ketan putih
10 gr tepung beras
100 gr  gula
300 ml  air .
(pewarna makanan boleh pake boleh gak)
.
isian :
kacang tanah giling
gula pasir
.
taburan :
tepung tapioka sangrai
.
cara buat :
-campur semua bahan, aduk sampai rata & halus
-kukus adonan 15 menit, angkat & aduk -kukus kembali selama 10 menit, angkat biarkan hangat. - lumuri telapak tangan dengan tep.tapioka agar tidak lengket.
- ambil adonan yg sudah hangat isi kacang lalu bulatkan, gulingkan ke tepung tapioka sangrai...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Resep kue talam tako

TALAM TAKO / TAKO THAI


Bahan:
50 gr  tepung hung kwee
500ml  santan
100 gr  gula pasir
1/4 sdt garam
1 buah jagung manis pipil, kukus hingga matang
Daun pandan untuk tempat talam takir di hashtag # geniktutorial (tutorial scroll ke bawah ya aku udah pernah share)
.
Cara Membuat:
- Dalam panci, campur semua bahan kecuali jagung, aduk sampai tercampur rata.
- lalu masak dengan api sedang sambil di aduk sampai meletup2 kental, lalu masukkan jagung pipil, aduk rata, matikan kompor.
- biarkan uap panasnya hilang, lalu tuang ke cetakan pandan talam takir yg sudah di buat kotak kecil.
- Dinginkan & talam tako siap di santap ☺
. .
SELAMAT MENCOBA
By genikayu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mpek mpek kapal selam

Resep by mba yessy_octa

Bahan Pempek :
500 gr ikan (tenggiri) giling
350 gr sagu tani
250 ml air es
4 butir telur
1 sdt garam
Penyedap rasa sedikit

Bahan Isian :
2 telur, kocok lepas, beri garam sedikit

Cara :
1. Campur semua bahan kecuali sagu. Aduk rata, adonan akan menjadi kental.
2. Masukkan sagu, aduk rata, sampai bisa dibentuk, jika masih terasa lengket, tambahkan sagu ditelapak tangan
3. Bentuk kapal selam dan isi adonan dengan kocokan telur
4. Rebus dengan air yg sudah dididihkan terlebih dahulu, angkat apabila sudah mengapung keatas, tiriskan.

Bahan Cuko:
300 gr gula merah disisir
4 siung bawang putih haluskan
100 gr cabe rawit hijau + merah dihaluskan
50 ml air asam jawa
Garam
2 sm cuka
1 sdm ebi sangrai, haluskan
1 L air

Cara buat cuko:
1. Campur cabe, garam, bawang putih, cuka. Aduk rata, diamkan selama 1 jam
2. Rebus gula merah, air dan air asam jawa, aduk sampai mendidih, sharing, sisihkan
3. Masukkan campuran cabe kedalam air gula merah yg sudah disaring, didihkan kembali, menjelang diangkat masukkan ebi.

Note: saya pakai setengah resep yg ada diatas.
Sajikan pempek yg sudah digoreng dengan cuko, timun dan mie.

Semoga bermanfaat
#resepmpekmpekkaplselam
#kapalselam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Resep Roti boy

Roti boy

Bahan :
Tepung terigu protein tinggi 500 gr
Gula halus 100 gr
Susu bubuk putih 1 sachet (27 gr)
Telor 2 butir
Ragi 11 gr
Air es 180 ml
Margarin 50 gr
Garam halus sejumput

Bahan topping :
Margarin 150 gr
Gula halus 200 gr
Telur 2 butir
Tepung terigu protein sedang 200 gr
Pasta rasa kopi mocca merk koepoe koepoe secukupnya

Bahan isiannya :
Margarin 200 gr (dalam keadaan masih didalam kemasan saya masukin kulkas hingga keras,lalu saya buka kemasannya,potong2 menjadi 20 bagian sama banyak)

Cara membuatnya :
Campurkan tepung,gula,susu,ragi,telor dan air,uleni hingga setengah kalis,lalu masukkan margarin dan garam,uleni hingga kalis.Letakkan adonan di wadah dan tutup dengan kain selama 1 jam hingga mengembang,kempiskan adonan,bulatkan adonan sebanyak 20 buah sama banyak,ambil 1 buah adonan,gilas,isi dengan margarin,bulatkan kembali,ulangi hingga adonan habis,tata adonan diloyang yang sudah diolesi margarin,beri jarak antara satu dengan yang lainnya,biarkan kembali adonan selama kurang lebih 30 menit hingga mengembang.Selagi menunggu adonan mengembang bikin adonan untuk toppingnya yaitu mixer sebentar margarin bersama gula dan telur hingga rata kurang lebih 1 menit dengan kecepatan sedang,lalu masukkan tepung terigu,mixer hingga rata,terakhir masukkan pasta mocca,mixer hingga rata,lalu masukkan adonan kedalam plastik segitiga,gunting ujungnya.Setelah adonan roti mengembang,semprotkan melingkar diatas permukaan roti kurang lebih hingga 3/4 nya lalu oven dengan suhu 180'c menggunakan api bawah selama 20 menit lalu pindahkan ke api atas selama 5 menit,angkat,sajikan selagi hangat lebih nikmat.Jadinya 20 buah.

#rotiboy
#reseprotiboy

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pilih Manhaj salaf

✨ *Materi : Aqidah, Manhaj, Tauhid* ✨

•┈┈•✿❁🌼🌹💖🌹🌼❁✿•┈┈•

💥 *MENGAPA AKIDAH SALAF KOKOH DAN SELAMAT? (Bag. 01)* 💥

بسم الله الرحمن الرحيم

🍂 Setelah memperhatikan perkataan para ahli ilmu mengenai masalah agung ini, bisa kita simpulkan banyak sebab yang membuat akidah ini kokoh dalam diri orang  yang memegangnya, dan membuat akidah ini terus langgeng dan selamat dari perubahan dan penyelewengan. Kami ringkaskan di sini dalam point-point berikut:

1⃣ *Para pemegang akidah ini berpegang teguh dengan Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya*

Mereka berpegang teguh dengan Kitab Allâh dan Sunnah Rasûl-Nya serta mengimani semua yang datang dalam Kitab Allâh dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka juga benar-benar meyakini bahwa tidak boleh meninggalkan sesuatupun dari apa yang datang dalam al-Kitab dan as-Sunnah. Dan memang wajib atas setiap Muslim untuk mengimani dan membenarkan semua yang datang dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sehingga mereka mengimani semua nash yang termuat di dalamnya, misalnya nash yang berisi berita tentang Allâh, asma’ dan sifat-Nya; para nabi-Nya, hari akhir, taqdir dan lainnya. Mereka mengimaninya, baik secara global maupun terperinci. Iman secara global terhadap semua yang Allâh Azza wa Jalla beritakan berupa perkara-perkara iman. Iman secara terperinci terhadap semua yang telah sampai ilmunya kepada mereka dalam Kitab Allâh dan Sunnah Nabi-Nya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allâh dan Rasûl-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu."
[Al-Hujurat/49:15]

Beginilah sikap mereka terhadap semua nash al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka menerima dan mengimani semuanya. Sikap mereka adalah seperti yang dikatakan sebagian kaum salaf, “Dari Allâh Azza wa Jalla datangnya risalah; kewajiban Rasûl adalah menyampaikannya; sedangkan kewajiban kita adalah menerimanya.”

Barangsiapa yang berpegang teguh terhadap Kitab Allâh dan Sunnah Nabi-Nya, dengan berpedoman dan berlandaskan pada keduanya, maka keselamatan, istiqâmah dan jauh dari penyelewengan akan menyertainya atas izin Allâh Azza wa Jalla.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Inti yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan; antara petunjuk dan kesesatan, jalan kebahagiaan dan keselamatan dengan jalan kecelakaan dan kebinasaan, adalah dengan menjadikan apa yang dibawa oleh para Rasûl-Nya sebagai kebenaran yang wajib untuk diikuti. Dengannya terwujud pembeda (antara yang hak dan batil), petunjuk, ilmu dan iman. Sehingga ia percaya bahwa itulah al-haq dan kebenaran. Adapun selainnya berupa perkataan seluruh manusia, maka harus ditimbang pada kebenaran tersebut. Jika perkataan itu sesuai dengannya, maka itu benar, namun bila menyelisihinya, maka itu batil. Adapun jika tidak diketahui, apakah itu sesuai dengan kebenaran (yang datang dari Allâh dan Rasûl-Nya) atau tidak, (misalnya-red) karena ucapan tersebut masih bersifat global, sehingga tidak diketahui maksud pemilik ucapan tersebut; atau telah diketahui maksudnya, akan tetapi tidak diketahui apakah (ajaran) Rasûl membenarkannya atau tidak, maka (dalam kondisi seperti ini-red) kita harus menahan diri. Seseorang tidak boleh berbicara kecuali dengan dasar ilmu. Sedangkan ilmu adalah apa yang ditopang oleh dalil; dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”[1]

Inilah inti sari jalan yang ditempuh Ahlussunnah wal Jamaah dalam masalah yang agung ini –semoga Allâh merahmati mereka-.  Mereka berpedoman pada al-Kitab dan as-Sunnah. Dengan berpedoman seperti ini, mereka berhasil mendapatkan keselamatan dan kekokohan akidah.

Syaikhul Islam t sering mengatakan, “Barangsiapa yang memisahkan diri dari dalil, ia akan sesat jalan. Dan tidak ada dalil kecuali apa yang dibawa oleh Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”[2]

Ibnu Abil `Izz dalam Syarah al-`Aqîdah Ath-Thahâwiyyah berkata, “Bagaimana mungkin bisa sampai pada ilmu ushul (ilmu prinsip-prinsip agama) tanpa (berpedoman) pada apa yang dibawa oleh Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”[3]

Jadi, sikap Ahlussunnah yang berpedoman pada ajaran yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , merupakan sebab utama kekokohan akidah mereka. Tak ada seorangpun dari Ahlussunnah wal Jamaah –semoga Allâh merahmati mereka- yang merumuskan suatu keyakinan dari dirinya sendiri; atau mendatangkan suatu keyakinan atau agama dari pendapat, perasaan dan pikirannya. Yang biasa melakukan perbuatan seperti itu adalah para pengikut hawa nafsu. Oleh karena itu akidah para pengikut nafsu itu kropos alias tidak kokoh; dan sering terjadi ketidakkonsistenan di tengah mereka, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allâh Azza wa Jalla .
Adapun ahlussunnah, tak ada seorangpun dari mereka yang menggagas suatu keyakinan dari diri mereka sendiri. Bahkan mereka semua berpedoman dan bersandar pada Kitab Allâh Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Di sini akan kami nukilkan ungkapan yang sangat indah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata, “Keyakinan (i’tiqad dalam akidah) bukanlah dariku, bukan pula dari orang yang lebih senior dariku,[4] akan tetapi keyakinan itu  diambil dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan apa yang telah menjadi kesepakatan para salaf (pendahulu) umat ini, diambil dari Kitabullah dan dari hadits-hadits riwayat al-Bukhâri, Muslim dan lainnya; berupa hadits-hadits yang telah dikenal dan yang valid dari salaf umat ini.”[5]

Syaikhul Islam juga berkata, “Keyakinan asy-Syâfi’i rahimahullah , dan keyakinan para salaf umat ini; seperti imam Mâlik, ats-Tsauri, al-Auza’i, Ibnul Mubârak, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, yang itu juga keyakinan para masyâyikh yang menjadi panutan seperti al-Fudhail bin Iyâdh, Abu Sulaiman ad-Dârâni, Sahl bin Abdillah at-Tustari dan selain mereka; sesungguhnya tidak ada pertentangan di antara para imam tersebut dan para Ulama semisal mereka dalam hal prinsip-prinsip agama. Demikian pula Abu Hanifah rahimahullah . Sesungguhnya keyakinan yang valid dari Abu Hanifah dalam masalah tauhid, takdir dan semacamnya, sesuai dengan keyakinan para ulama tersebut. Dan keyakinan para ulama tersebut, itulah keyakinan yang dipegang oleh kalangan sahabat dan tabiin yang mengikuti jejak sahabat dengan bijak. Dan itulah yang dikatakan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.”[6]

Jadi, ini adalah prinsip dasar pertama atau point pertama dari sebab-sebab kokohnya akidah ini dalam diri para pemegangnya; yaitu berpedoman pada al-Kitab dan as-Sunnah. Tanpa berpedoman pada keduanya, tak ada jalan menuju kokohnya akidah. Tanpa itu, tak ada jalan menuju keselamatan dan keistiqamahan.

2⃣ *Para Ulama Salaf Meyakini Kitabullah dan as-Sunnah mengandung Akidah yang haq dan Sempurna.*

Mereka meyakini bahwa keduanya mengandung akidah yang haq tak ada kekurangan sama sekali dari semua sudut pandang. Sungguh, akidah yang haq sudah sangat jelas dan tanpak terang benderang dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

"Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu

yaitu telah sempurna dalam hal akidah, ibadah dan perilaku. Lanjutan ayatnya:

وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."
[Al-Mâ’idah /5:3]

Telah dijelaskan dalam al-Quran dan as-Sunnah semua hal yang dibutuhkan manusia, baik yang terkait dengan masalah i’tiqad (keyakinan), ibadah, juga  mu’amalah (tata cara berinteraksi antar sesama), akhlak dan suluk. Dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

"Tidak ada nabi sebelumku melainkan menjadi kewajiban atasnya untuk menunjukkan kebaikan yang ia ketahui kepada umatnya, dan memberi peringatan tentang keburukan yang ia ketahui kepada mereka."
[HR. Muslim]

Ketika Ahlussunnah mengimaninya secara sempurna dan mereka benar-benar merasa puas bahwa agama mereka, baik yang terkait akidah, ibadah maupun suluk; itu semua telah dijelaskan dengan sangat gamblang dalam al-Quran dan as-Sunnah, maka mereka memegang teguh itu secara konsekuen dan mereka landaskan segala sesuatunya pada apa yang datang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara sempurna. Dalam masalah ini, mereka tidak perlu merujuk kepada selain yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka tegar secara totalitas di atas Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dengan ini terwujudlah bagi mereka keselamatan yang sempurna.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan semua urusan agama ini; baik dalam ushul  (pokok) maupun furu’nya (cabang-cabang); baik yang batin (amalan yang terkait hati) maupun lahiriyahnya (terkait amalan yang tampak); baik terkit ilmu maupun pengamalannya. Sungguh, prinsip ini adalah dasar dari semua prinsip ilmu dan iman. Semakin kuat seseorang berpegang dengan prinsip ini, maka semakin berhak dan layak untuk berada dalam kebenaran, baik secara keilmuan maupun penerapannya.”[7]

Yang dimaksud dengan prinsip dasar tersebut adalah berpedoman dan berlandaskan secara sempurna pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena dalam al-Quran dan as-Sunnah telah dijelaskan semua urusan agama, baik dalam bidang akidah, ibadah maupun perilaku (suluk).

Di dalam keduanya telah dijelaskan perkara-perkara rinci  yang dianggap remeh terkait adab, seperti adab buang hajat, adab bersuci, adab bermuamalah (berinteraksi antar sesama) dan yang lainnya. Jika masalah-masalah rinci yang terlihat ringan ini dijelaskan dalam al-Quran dan as-Sunnah, lalu apakah mungkin masalah terkait akidah ditinggalkan begitu saja tanpa dijelaskan?!

Ini hal yang mustahil, seperti dinyatakan oleh Imam Darul Hijrah, Mâlik rahimahullah , “Mustahil, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan untuk umat ini segala perkara termasuk masalah buang hajat, sedangkan masalah tauhid tidak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan kepada mereka!”

Jadi, dalam al-Quran dan as-Sunnah terkandung semua kebaikan, terkandung semua petunjuk, kebenaran, baik dalam hal akidah, ibadah, muamalah maupun akhlak. Dan kadar keselamatan dan keistiqamahan yang diraih oleh seseorang tergantung pada kadar komitmennya untuk berpedoman dan berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Imam Mâlik rahimahullah , “Sunnah adalah bahtera Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya, maka ia selamat. Dan barangsiapa meninggalkannya, pasti ia akan tenggelam.”

3⃣ *Mengembalikan Segala Perbedaan dan Perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah*

Di antara sebab kokohnya akidah dalam diri para pemegangnya adalah bila terjadi perselisihan atau perbedaan atau semacamnya, mereka tidak murujuk pada apapun, selain pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka yakin seyakin-yakinnya, bahwa perselisihan, perbedaan atau yang semacamnya, tidak akan bisa dipecahkan dan ditunntaskan problemnya kecuali dengan bersandarkan pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana yang Allâh firmankan:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
[An-Nisa’/4:59]

Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang senantiasa berpegang atau bersandar pada kitabullah dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua permasalahan yang diperselisihkan diantara manusia, maka kekokohan dan keselamatan akan selalu menyertainya, tidak terombang-ambing. Dan sebagaimana sudah diketahui bersama, bahwa setiap perselisihan atau perbedaan yang terjadi diantara manusia, sering tidak ada solusi dan pemecahannya kecuali dengan bersandar pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena pendapat dan akal manusia berbeda-beda, sebagaimana cara pandang mereka juga sering berlawanan. Maka tidak ada cara untuk menyelesaikan perselisihan dan keluar dari pertentangan, kecuali bila semua pihak secara tulus dan rela kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini adalah salah satu sebab utama di antara sebab-sebab tegarnya ahlul haq di atas kebenaran.

4⃣ *Fitrah Mereka Terjaga*

Fitrah adalah nikmat dan anugerah dari Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah berkenan memberi anugerah kepada mereka dengan menciptakan mereka semuanya di atas fitrah, sebagaimana sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka dua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi yahudi, nasrani atau majusi."
[HR. Al-Bukhâri, no. 1385]

Allâh Azza wa Jalla menciptakan mereka di atas fitrah. Dan fitrah Ahlussunnah akan terus bersih, tidak berubah. Allâh Azza wa Jalla menjaga fitrah mereka sehingga tidak berubah, tidak berganti atau menyimpang. Sedangkan manusia lainnya, fitrah mereka telah terkontaminasi, telah terjamah oleh penyimpangan,  dengan kadar yang bervariasi, ada yang sedikit ada pula yang banyak.

Dalam hadits qudsi Allâh Azza wa Jalla berfirman:

خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

"Aku telah menciptakan para hamba-Ku dalam keadaan lurus semuanya (dalam keadaan muslim; atau siap menerima hidayah-Nya). Dan sesungguhnya syaitan pun mendatangi mereka hingga syaitan pun menggodanya dan memalingkannya dari agama mereka."
[HR. Muslim, no. 2365]

Dan dalam al-Quran,  Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

"Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk."
[Az-Zukhruf /43:37]

Jadi, syaitan dan bala tentaranya memalingkan dan membelokkan manusia dari fitrah mereka.

Karena itulah, di antara sebab kokohnya akidah ini adalah berusaha sungguh-sungguh menjaga fitrah diri.  Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"(Tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
[Ar-Rûm/30:30]

Perlu diketahui, bahwa keselamatan fitrah seseorang itu terkait erat dengan selamatnya nara sumber (rujukannya). Bila pemilik fitrah yang bersih ini bersandar dan berlandaskan pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka fitrahnya pun tidak berubah. Namun bila ia menyerahkan fitrahnya pada hawa nafsu yang membinasakan, syubhat yang merusak, dan pendapat-pendapat yang menyeleweng serta merekayasa fitrah hingga jauh dari asalnya, maka fitrahnya pun akan melenceng.

5⃣ Akal Mereka Lurus

Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang yang paling bagus akalnya; Pendapat, pikiran, dan manhajnya paling selamat. Mereka mempunyai akal yang unggul nan cemerlang. Mereka tidak melebih-lebihkan, tidak pula menyepelekan akal manusia, tidak seperti pengikut hawa nafsu dan bid’ah.

Di kalangan Ahlussunnah, tidak ada unsur berlebihan (ekstrim) dalam memposisikan akal mereka seperti yang tampak jelas di kalangan ahli kalam dan falsafah serta orang-orang yang setipe dengan manhaj mereka. Yaitu mereka yang menyingkirkan Kitabullah dan Sunnah, lalu secara totalitas menjadikan akal, pikiran, dan pendapatnya sebagai sandaran. Apa yang ia pandang benar menurut akalnya, maka ia akan berpegangan padanya. Adapun kalau ia pandang bertentangan dengan akalnya, iapun akan meninggalkannya, meskipun yang mengatakannya adalah Allâh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebab yang dijadikan sebagai landasan dan pegangan menurutnya adalah apa yang disimpulkan oleh akal dan pendapat mereka.

Padahal sebagaimana telah diketahui,  bahwa akal manusia itu tidak sama. Oleh sebab itu, ketika banyak orang berpedoman pada akal, maka itu menjadi sebab maraknya berbagai penyimpangan, karena akal manusia berbeda-beda. Sebagian salaf mengatakan, “Seandainya hawa nafsu itu hanya satu, maka pasti disebut al-haq (kebenaran), akan tetapi hawa nafsu itu bermacam-macam dan beragam.” Demikian pula, kita bisa mengatakan, “Seandainya akal itu satu, maka pasti ia disebut al-haq (kebenaran), akan tetapi akal itu beragam dan bermacam-macam.”

Pengikut hawa nafsu ini lebih mengedepankan akal mereka daripada wahyu yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka menjadikan akal sebagai pedoman dan landasan. Akal menjadi pegangan mereka. Dulu, salah seorang salaf pernah membuat sebagian kalangan mereka tidak berkutik, ketika dikatakan kepada mereka bahwa konsekuensi dari pendapat mereka (yang menetapkan bahwa akal mereka merupakan landasan-red) adalah mereka harus mengatakan: “Aku bersaksi bahwa akalku adalah utusan Allâh”; sebagai ganti dari ucapan: “aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allâh”. Karena yang dijadikan sebagai pegangan dan landasan olehnya adalah akalnya.

Ini salah satu sisi penyimpangan dalam akal yaitu berlebih-lebihan terhadap akal, dan mengangkat status akal melebihi kedudukannya yang semestinya. Di samping itu, ada juga penyimpangan dalam masalah akal yaitu menyepelekan dan menjauhkan peran akal. Ini banyak didapati pada kalangan ahli tasawwuf yang sesat dan tak berilmu; di mana mereka menyingkirkan akal mereka, kemudian atas nama tasawwuf, mereka masuk pada hal-hal yang mereka sebut sebagai jadzb, syathahat[8] atau junun dan semacamnya. Sehingga mereka terjatuh dalam berbagai macam penyimpangan yang begitu buruk, yang tidak bisa diterima akal sehat. Mereka bisa terperosok kedalam hal-hal tersebut karena mereka telah menyingkirkan fungsi akal secara total.

Sedangkan ahlussunnah -semoga Allâh merahmati mereka-merupakan kalangan yang berada di pertengahan. Mereka tidak melampaui batasan akal, namun juga tidak menyingkirkan dan membatalkan peran akal. Mereka menempatkan akal pada batasan dan koridor yang telah ditentukan.

Sebagaimana pendengaran manusia mempunyai batas kemampuanan yang tidak mungkin dilampaui, begitu pula dengan pandangan dan indra lainnya, termasuk akal.  Akal punya batasan tertentu. Barangsiapa berusaha untuk memaksa akalnya memasuki area di luar batas kemampuannya,  maka ia akan tersesat.

Karena itulah, akal para pengikut Ahlussunnah wal Jamaah tetap sehat dan selamat dari penyimpangan. Karena mereka memberdayagunakan akal mereka pada batasannya yang telah ditentukan, dan tidak mengabaikannya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."
[Ali Imran /3: 190]

Mereka adalah orang-orang yang mempunyai pikiran yang lurus dan akal yang unggul. Mereka menempatkan akal mereka pada batasan dan bidang yang semestinya, tanpa ada unsur pengultusan akal ataupun pengabaian akal, tidak berlebih-lebihan namun juga tidak menyepelekan, tanpa menambah-nambahkan ataupun mengurangi. Ini adalah perkara agung yang merupakan salah satu sebab ahlussunnah tegar di atas kebenaran.

_[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]_

➖➖➖

🔹 *Footnote :*

[1] Majmû` Fatâwâ, Ibnu Taimiyyah, 13/135-136

[2] Lihat Miftâh Dâr As-Sa`âdah karya Ibnul Qayyim, hlm. 90

[3] Syarh al-`Aqîdah ath-Thahâwiyyah, hlm. 180

[4] Artinya bukan wewenangku untuk mendatangkan keyakinan dari diriku di mana aku menggagas dan merumuskannya. Bukan pula wewenang orang yang lebih senior dariku seperti Imam Ahmad, Asy-Syafii, Malik, dan lainnya dari kalangan para imam agama ini. Tidak ada satupun dari mereka  yang mencanangkan suatu keyakinan dari dirinya

[5] Majmû` al-Fatâwâ, 3/203

[6] Majmû` al-Fatâwâ, 5/256

[7] Majmû` al-Fatâwâ, 19/155

[8] Syathahat: ucapan ganjil yang dilontarkan kaum sufi yang kaum Mukmin merasa terusik karena seringkali bertentangan dengan prinsip akidah (-pen).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

✍ Syaikh Prof.Dr.Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr
🌐 www.almanhaj.or.id

•┈┈•✿❁🌼🌹💖🌹🌼❁✿•┈┈•

Edit & Repost By :

📱 WAG "Forum Muslimah Hijrah" *Bermanhaj Salaf*
📲 Join Grup :
(KHUSUS AKHWAT)*
🖥 Instagram : @belajarislam_sunnah

♻ Silahkan dishare ~
*“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”*
(HR. Muslim no. 1893)

🌷 Barokallahufikunna

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puasa Dzulhijjah

🌸_*ANJURAN BERPUASA SUNNAH PADA TANGGAL 1-9 DZULHIJJAH*_🌸

🍃🌹🍃🌹🍃🌹🍃🌹

🗓 Puasa termasuk amal shalih yang sangat agung, dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menganjurkan untuk memperbanyak amal shalih, khususnya di awal Dzulhijjah.

🌼Berdasarkan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

_“Tidaklah ada hari-hari yang lebih dicintai Allah ta’ala untuk beramal shalih melebihi sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah? Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad bersama diri dan hartanya, lalu tidak ada yang kembali sedikitpun.”_
[HR. Al-Bukhari, Abu Daud dan At-Tirmidzi]

🌼Dalam riwayat yang lain,

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلاَ أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الأَضْحَى

_“Tidak ada satu amalan yang lebih suci di sisi Allah ‘azza wa jalla dan lebih besar pahalanya dari satu kebaikan yang dilakukan seseorang pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”_
[HR. Ad-Darimi dalam Sunan-nya no. 1776 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Shahih At-Targhib].  Maka dianjurkan berpuasa sunnah pada 9 hari pertama di bulan Dzulhijjah, berdasarkan keumuman dalil tentang keutamaan amal shalih pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Adapun tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah diharamkan berpuasa.

🌼Dan terdapat dalil khusus dari sebagian istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

_"Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa Sembilan hari awal Dzulhijjah, hari ‘Asyuro (10 Muharram), tiga hari setiap bulan Senin pertama dari bulan tersebut dan hari Kamis.”_
[HR. Abu Daud, Shahih]

🌼Boleh melakukan puasa ini sembilan hari penuh atau sebagiannya saja.

🌼Dan lebih ditekankan lagi untuk berpuasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) bagi selain jama’ah haji, berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

ثَلاَثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ فَهَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

_"Puasa tiga hari tiap bulan, puasa Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya, maka inilah puasa yang bagaikan berpuasa setahun penuh, puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) aku harapkan kepada Allah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) aku harap kepada Allah dapat menghapuskan dosa setahun lalu.”_
(HR. Muslim dari Abu Qotadah radhiyallahu’anhu)

🌸 mari kita memperbanyak amal sholih,  termasuk salah satunya berpuasa pada tanggal 1-9  Dzulhijjah..

♻ Mutiara Sunnah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Martabak Cocopandant

Martabak cochopandan

Bahan ;
* 250 gr terigu
*1/2 sdt garam
* 1/2 sdt Baking powder
*1 butir telor
*1/2 sdt baking soda
*100 grm skm cochopandan
* 280ml air

Carbut ;
1.Campur tepung, garam, baking powder,
Aduk rata
2, campurkan telur, Skm dan Air aduk rata
Diamkan 15 menit
3.Tambahkan Baking soda
Dan tuang ke Loyang sesuai cetakan
#resepmartabakqori
#martabkenak
#resepmartabak

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rendang daging

Resep rendang daging

RENDANG

Bahan :
1 kg daging sapi, potong2
1 L santan kental
2 sdm cabai giling (dr cabai merah yg digiling halus, lalu gunakan 2 sdm)
1 lembar daun kunyit
4 lembar daun jeruk
2 lembar daun salam
2 buah serai, geprek
1 buah bunga lawang
1/2 sdt pala bubuk
1/2 sdt ketumbar bubuk
200-250 ml air
garam secukupnya

Bumbu halus :
15 butir bawang merah
10 butir bawang putih
1 jempol jahe
1 jempol lengkuas
1 ruas jari kunyit

Cara :
Masak semua bumbu, air dan santan sambil diaduk2.
Masukkan daging lalu masak dgn api kecil hingga sambil sesekali diaduk perlahan, beri garam sedikit demi sedikit krn semakin lama rasanya semakin asin.
Masak kurang lebih 3-4 jam, hingga santan menyusut dan hampir kering.

#reseprendangdaging
#reseprendang

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tongseng daging

Resep Tongseng daging

1 kg daging sapi (sengkel / sandung lamur enak)
5 lbr kol, iris kasar
1.5 L santan dr 1 btr kelapa
15 bh cabe rawit utuh
seruas lengkuas dimemarkan
4 lbr daun salam
1 btg kecil kayu manis
2 btg sereh dimemarkan
2 bh tomat potong2
4 sdm kecap manis
secukupnya garam, gula

Bumbu yg dihaluskan :
12 btr bawang merah
7 siung bawang putih
8 bh cabe merah keriting
4 bh kemiri
4 sdt ketumbar
2 sdt merica
seruas kunyit

Carbut ;

1* Tumis bumbu halus bersama daun salam, sereh, lengkuas, kayu manis hingga harum
2* Masukkan daging sapi yg sudah dipotong2 aduk sampai berubah warna
3* Tambahkan santan, masukkan cabe rawit, kecap manis, garam, gula secukupnya
4* Masak sampai daging cukup empuk dan kuah mengental. Cicipi. Menjelang angkat masukkan kol dan tomat
5*Sajikan tongseng panas dg ditaburi bawang goreng. Sedaap bangett

#reseptongsengdaging
#reseptongsengqory

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tongseng Ayam mak shofie

Tongseng Ayam

1 ekor ayam potong kecil2
Bbrp lembar kol dirajang
10 rawet merah utuh

Blender:
8 bawang merah
6 siung bawang putih
1 1/2 sendok makan ketumbar
1 sendok makan merica
7 buah kemiri
3 centi jahe
3-4 centi kunyit
Cabe rawit

Bumbu lainnya:
3 lembar daun salam
5 lembar daun jeruk buang tulang daunnya
3 batang serai geprek
4 centi lengkuas geprek
2 buah tomat hijau potong2
3 cabe merah besar d potong2 ( hiasan )
4 sendok makan kecap manis/ secukupnya
Garam dan royco
Beberapa sendok bawang merah goreng

Carbut;
Tumis bahan blender dengan daun salam, daun jeruk, serai, lengkuas sampai harum dan berminyak. Masukkan air secukupnya, didihkan. Masukkan ayam dan kecap manis. Masak sampai ayam empuk. Masukkan rawet merah utuh, tomat, , royco dan garam. Masukkan beberapa sendok bawang merah goreng. Matikan api. Masukkan kol dan daun bawang. Aduk2. Sajikan.
Resep ini gak pakai santan karna aku pakai kemiri yang agak banyak, tapi kalau mau santan juga boleh.
#reseptongsengayam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Resep es krim Es cream

Es Krim Lembut Anti Gagal🍦

Mumpung freezer kulkas lagi kosong, kita bikin es krim aja🤗

➡️Bahan-bahan
2 saset susu bubuk (aku pake dancow)
3 sachet SKM putih
4 sdm tepung maizena
14 sdm gula pasir
4 1/2 gelas air
santan kental instan 65 ml siap pakai (bs di skip)
1 sdm SP yg sudah di tim lalu di diamkan smp menggumpal kembali
4 scht pop ice (aku pake yg rasa coklat sama strawberry)
Sejumput garam
Vanili (selera, bisa di skip)

➡️Langkah:
1. Aduk semua bahan kecuali SP dan pop ice/perasa. Pindahkan ke panci lalu panaskan hingga mendidih/meletup2.

2. Dinginkan di suhu ruang lalu masukkan ke frezer hingga membeku (+- 8 jam)

3.Setelah membeku keluarkan taruh diwadah kerok2 dengan sendok Lalu mixer selama 10 menit. Masukkan SP lalu mixer lagi 15 menit

4. Bagi adonan menjadi 2 dan beri perasa klo msh pucat bs ditambah pewarna lalu mixer lagi 5 menit.

5. Tuang ke cetakan
Es krim lembut siap disajikaaaaan😍😍😍
Es krim ini cocok untuk buka usaha jualan. Karena cuman butuh modal dikit. Tapi hasilnya banyak bgt. Saya aja harus ganti tempat karena es krimnya ngembang terus. Bisa ngembang 3x lipet
#eskrim
#icecream. #resepicecream
#resepicecream

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fiqih

🍁 *Materi : Fiqih Muamalat* 🍁

•┈┈•✿❁🌼🌹💖🌹🌼❁✿•┈┈•

🥡 *HUKUM MENGKREDITKAN BARANG YANG MASIH KREDIT* 🥡

بسم الله الرحمن الرحيم

👉 Diantara ketentuan bolehnya menjual objek transaksi adalah :

1⃣ Barang itu telah dimiliki

Karena dilarang menjual barang yang bukan milik kita, kecuali jika mendapat izin dari pemilik.

🔖 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu,

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki.”
(HR. Ahmad 15705, Nasai 4630, Abu Daud 3505, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

🍂 Dalam riwayat lain, Hakim pernah mengatakan,

نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَبِيعَ مَا لَيْسَ عِنْدِى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melarangku untuk menjual barang yang tidak aku miliki.”
(HR. Turmudzi 1280 dan dishahihkan al-Albani).

2⃣ Barang itu telah dikuasai

Ada barang yang kita miliki, namun belum kita kuasai. Seperti barang yang kita gadaikan, atau barang yang kita beli dari tempat jauh, dan belum kita terima karena baru dalam proses pengiriman.

Dalil bahwa tidak boleh menjual barang yang belum kita kuasai adalah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ

"Siapa yang membeli makanan, maka jangan dia jual sampai dia menerimanya."

Ibnu Abbas menjelaskan hadis ini,

وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ

“Menurut saya, barang yang lain statusnya sama seperti makanan."
(HR. Muslim 3915).

🌈 Selanjutnya di sana ada kaidah,

♻ Perpindahan hak milik, terjadi setelah akad, meskipun belum dibayar atau belum diserah terimakan.

⁉ *Barang Kredit, Dikreditkan?*

Paijo membeli motor secara kredit di Guntoro seharga 5jt dicicil selama setahun. Setelah dipakai 2 bulan, motor itu dijual secara kredit ke Mukidi, seharga 4jt, dicicil selama 1 tahun.

👉 Beberapa kondisi yang terjadi dalam akad,

1⃣ Ketika Paijo telah membeli motor di Guntoro, terjadilah perpindahan hak milik atas motor, dari Guntoro ke Paijo, meskipun pembayarannya belum lunas. Karena hak kepemilikan barang berpindah setelah terjadi akad.

2⃣ Paijo menggunakan motor itu selama 2 bulan. Artinya, motor itu telah dikuasai oleh Paijo, sehingga Paijo bisa melakukan appaun terhadap motor ini.

Karena itu, Paijo telah memenuhi 2 kriteria di atas, motor itu telah dia miliki dan motor itu telah dia kuasai. Sehingga Paijo berhak untuk menjual motor itu dengan cara apapun, sesuai yang dia kehendaki. Seperti menjualnya kembali ke Mukidi secara kredit.

Selanjutnya, Paijo tetap berkewajiban membayar cicilan 5juta ke Guntoro sesuai batas waktu yang ditetapkan. Mukidi juga berkewajiban membayar cicilan 4jt ke Paijo, sesuai waktu yang ditetapkan. Meskipun boleh juga pembayaran dari Mukidi langsung dialihkan ke Guntoro, dan kekurangannya ditambahi Paijo.

Demikian, Allahu a’lam.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

✍ Ustadz Ammi Nur Baits
🌐 www.konsultasisyariah.com
♻ www.pengusahamuslim.com

•┈┈•✿❁🌼🌹💖🌹🌼❁✿•┈┈•

Edit & Repost By :

📱 WAG "Forum Muslimah Hijrah" *Bermanhaj Salaf*
📲 Join Grup :
*(KHUSUS AKHWAT)*
🖥 Instagram : @khairysyari

♻ Silahkan dishare ~
*“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”*
(HR. Muslim no. 1893)

🌷 Barokallahufikunna

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Akibat marah

💦 *Materi : Adab & Akhlak* 💦

•┈┈•✿❁🌼🌹💖🌹🌼❁✿•┈┈•

🍂 *EFEK DAN PENGARUH AMARAH* 🍂

بسم الله الرحمن الرحيم

🍁 Amarah memiliki pengaruh-pengaruh yang sangat membahayakan dan kesudahan yang menghancurkan bagi pengemban dakwah, juga bagi kegiatan amal Islami, dan berikut ini adalah sebagian dari efek dan akibat tersebut, di antaranya:

🔹 *Bagi Para Pengemban Dakwah*

Efek amarah terhadap pengemban dakwah adalah:

1⃣ Membahayakan tubuh

Yang demikian itu bahwasanya amarah timbul dari darah yang naik dalam jantung, lalu terpancar dengan cepat ke seluruh badan sehingga nampak pada wajah dan mata yang memerah. Jika hal itu terus terulang akan menimbulkan tekanan darah pada sebagian besar kondisinya, dan mungkin saja terjadi pengerasan pembuluh darah, lalu ia menjadi lumpuh. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita darinya. Demikianlah akhir amarah bagi tubuh yang membawa kepada keburukan.

2⃣ Kurang Agama

Amarah terkadang membawa pelakunya kepada ghibah (membicarakan aib orang lain), dan mungkin juga bisa sampai mencaci maki kehormatannya, merampas hartanya dan menumpahkan darahnya. Semua itu merupakan perbuatan dosa dan sebagai tanda kurangnya agama padanya.

3⃣ Tidak Ada Kemampuan Untuk Mengendalikan Diri

Pada saat marah, akal menjadi sesuatu yang tidak berfungsi seperti sesuatu yang terhalang dan tertutup. Dan jika akal telah terhalang atau tertutup, maka manusia akan menjadi tidak mampu mengendalikan dirinya, dan saat itu akan muncul darinya akibat yang tidak terpuji dan menyebabkan penyesalan, namun hal itu terjadisetelah kejadian tersebut.

Sulaiman bin Dawud berkata: “Hati-hatilah engkau dari banyak marah, karena sesungguhnya banyak marah membuat hati seorang yang pemurah itu akan diremehkan.”

Dari Wahb bin Munabbih, bahwasanya dahulu ada seorang pendeta berada di tempat ibadahnya, lalu syaitan ingin menyesatkannya namun ia tidak mampu, kemudian ia datang kepada pendeta tersebut seraya memanggilnya, syaitan berkata padanya, “Bukalah.” Ia pun tidak menjawabnya. Lalu syaitan kembali berkata, “Bukalah, karena jika aku pergi, kau akan menyesal.” Namun ia tidak menoleh kepadanya. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Lalu syaitan pergi.” Maka pendeta tersebut berkata, “Tidakkah kau mendengar?” Ia menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Beritahukanlah kepadaku akhlak manusia yang dapat membantu syaitan menggoda mereka.” Ia berkata, “Marah, sesungguhnya apabila seseorang sedang marah, kami memainkannya seperti seorang anak yang memainkan sebuah bola.”

Sebagian orang berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, akal tidak akan tenang saat marah, seperti halnya ruh orang yang hidup tidak akan tenang dalam tungku yang meluap-luap, maka orang yang paling sedikit marah adalah orang yang paling berakal. Apabila marahnya demi dunia, maka menjadi sebuah kelicikan dan tipu daya, dan apabila marahnya demi akhirat, maka menjadi kemurahan hati dan pengetahuan, sesungguhnya dikatakan: ‘Amarah adalah musuh akal, dan amarah adalah bencana bagi akal.’”

4⃣ Jatuh Kedalam Kehinaan

Bahwasanya orang yang marah akan mendapatkan amarah terhadap apa yang ia tidak ketahui dan tidak ia sadari, hal ini akan menjatuhkannya ke dalam kehinaan.

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang melakukan setiap perbuatan yang mengakibatkan (pelakunya) tergelincir ke dalam kehinaan, dengan sabdanya:

(( إِيَّاكَ وَكُلَّ مَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ ))

“Hati-hatilah engkau dari setiap apa yang dimintai alasannya.”[1]

Sebagian orang berkata: “Hati-hatilah dengan amarah, karena sesungguhnya dia akan membawamu kepada kehinaan.”

5⃣ Siksa Yang Pedih

Amarah itu banyak menyebabkan kesalahan dan juga menyebabkan terjatuhnya kita terhadap berbagai macam maksiat dan keburukan. Hal ini akan mengakibatkan siksa yang pedih di akhirat kelak atau di dunia dan di akhirat sekaligus. Mahabenar Allah ketika berfirman:

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Rabb-nya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang amat berat.”
[Al-Jinn/72: 17]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”
[Thaaha/20: 124)

Benarlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda, di mana ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu bertanya kepada beliau:

(( مَا يُنْقِذُنِيْ مِنْ غَضَبِ اللهِ ؟ قَالَ: (( لاَ تَغْضَبْ ))

“(Amalan) apa yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Beliau bersabda: “Janganlah engkau marah.”[2]

🔹 *Terhadap Kegiatan Amal Islami*

Adapun pengaruh amarah terhadap kegiatan amal Islami di antaranya:

1⃣ Sedikit Mendapatkan Penolong Dan Pelindung

Sesungguhnya jiwa itu membentuk orang yang berakal lagi tekun dan bijaksana dalam tindak tanduknya, menerima dan melihat masyarakat sekitarnya, menolong dan melindunginya dengan seluruh kemampuannya. Adapun orang yang ceroboh dan kacau dalam perilaku dan tindak tanduknya, maka sesungguhnya ia memeriksa dan menghindar darinya, hal itu apabila para pengemban dakwah kepada Allah adalah di antara mereka yang marah karena dirinya sendiri dan mengikuti setiap hasratnya, mengikuti setiap hal yang membangkitkan amarahnya tanpa perhitungan akan hasil dan akibat-akibatnya, lalu manusia tidak akan menerima dan tidak akan melindungi mereka, maka kegiatan amal Islami akan rugi dengan hal tersebut dari ketiadaan penolong dan pelindungnya.

2⃣ Bercerai-Berai Dan Berkelompok-Kelompok

Pengaruh kedua terhadap kegiatan amal Islami akibat amarah yaitu bercerai-berai dan berkelompok-kelompok. Hal itu karena amarah untuk kepentingan pribadi maksudnya bahwa amalnya ditujukan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan setiap hal yang serupa, maka jangan diharapkan darinya timbul rasa saling cinta, atau saling menyatu, namun sebaliknya akan menjadi bercerai-berai dan berkelompok-kelompok.

3⃣ Panjangnya Jalan Dan Banyaknya Beban

Pengaruh terakhir dari amarah terhadap kegiatan amal Islami adalah panjangnya jalan dan banyaknya beban, ini adalah hal yang alami, karena sesungguhnya penolong dan pelindung yang sedikit bersamaan dengan menyebarnya sikap bercerai-berai dan berkelompok-kelompok akan berakhir dengan pasti pada panjangnya jalan dan banyaknya beban

[Disalin dari Kitab Mawaaqif Ghadhiba fiihan Nabiyyu Shallallahu Alaihi Wa Sallam Penulis Khumais as-Sa‘id, Judul dalam Bahasa Indonesia Pelajaran Penting Dari Marahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Sya’ban 1426 H – September 2005 M]

➖➖➖
Footnote :
[1]. Ash-Shahiihah (no. 354).
[2]. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (II/175), al-‘Iraqi berkata: “Isnadnya hasan sebagaimana terdapat dalam al-Mughni ‘an Hamlil Asfaari fil Asfaari.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

✍ Khumais as-Sa‘id
🌐 www.almanhaj.or.id

•┈┈•✿❁🌼🌹💖🌹🌼❁✿•┈┈•

Edit & Repost By :

📱 WAG "Forum Muslimah Hijrah" *Bermanhaj Salaf*
📲 Join Grup :
(KHUSUS AKHWAT)*
🖥 Instagram : @belajarislam_sunnah

♻ Silahkan dishare ~
*“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”*
(HR. Muslim no. 1893)

🌷 Barokallahufikunna

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebab-sebab marah

🌺 *Materi : Adab & Akhlak* 🌺

•┈┈•✿❁🌼🌹💖🌹🌼❁✿•┈┈•

🥀 *SEBAB-SEBAB AMARAH* 🥀

بسم الله الرحمن الرحيم

💥 Amarah itu memiliki sebab-sebab pemicunya dan juga faktor-faktor pendorongnya. Di antara sebab dan faktor pendorongnya yang terpenting adalah :

🔖 Lingkungan Yang Melingkupi Seseorang.
Sebab pertama yang memicu seseorang mudah marah adalah kembali kepada lingkungan sekitarnya, pengaruh faktor yang satu ini lebih mencakup daripada lingkungan yang dekat -yaitu rumah- maupun lingkungn yang jauh -yaitu masyarakat-. Terkadang bisa saja seseorang itu dilingkupi lingkungan yang penuh dengan kejahatan di mana mereka menganggap bahwa kebrutalan adalah suatu keberanian, kesewenang-wenangan amarah yang mengakibatkan kezhaliman adalah bentuk kejantanan, lalu ia terpengaruh dengan hal tersebut dan menjadi cepat marah sebagai kebiasaan dirinya dan menjadi ciri khas baginya.

🔖 Perdebatan Dan Berbantah-Bantahan.
Sebab kedua yang memicu seseorang mudah marah adalah perselisihan dan perdebatan dengan cara yang bathil, yaitu setiap orang yang saling menghina tersebut ingin menjadi pemenang atas yang lainnya walaupun dengan cara yang bathil, dan ketika hal itu tidak ia dapatkan, maka marahlah ia dan berkobarlah kemarahannya dengan maksud menyerang dan balas dendam, apalagi jika ia melihat dirinya lebih kuat atau lebih besar dari lawan debatnya.

Dan mungkin inilah yang menjadi sebab diperingatkannya seseorang dari berdebat dan berbantah-bantahan dalam kebathilan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]

🔖 Bersenda Gurau Dengan Kebathilan.
Sebab ketiga yang mengakibatkan kemarahan adalah kembali kepada sikap suka bercanda (bergurau) dengan cara yang bathil. Hal itu bahwa jika bergurau itu melampaui batas-batas kebenaran menuju kepada kebathilan, maka ia akan mengakibatkan permusuhan, dan permusuhan itu akan berakhir pada pengobaran api amarah dalam hati dengan gambaran yang nyata pada anggota tubuh yang akan membawa kepada kezhaliman dan balas dendam.

Mungkin inilah yang menyebabkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bercanda dengan cara yang bathil, bukan berarti beliau tidak pernah bercanda, beliau bercanda namun beliau tidak berkata melainkan kebenaran, beliau melarang dari bercanda yang bathil dengan sabdanya:

(( لاَ تُمَارِ أَخَاكَ وَلاَ تُمَازِخْهُ، وَلاَ تَعِدْهُ مَوْعِدَةً فَتُخْلِفَهُ ))

“Janganlah kamu berdebat dengan saudaramu dan janganlah kamu bercanda dengannya, serta janganlah kamu berjanji kepadanya lalu kamu mengkhianatinya.”[2]

🔖 Memusuhi Orang Lain Dalam Bentuk Apapun Dari Bentuk-Bentuk Permusuhan.
Sebab keempat yang mengakibatkan kemarahan adalah memusuhi orang lain dalam bentuk apa pun dari berbagai macam bentuk permusuhan. Yaitu jika seseorang dimusuhi oleh orang lain dengan bentuk permusuhan apa pun dari bentuk-bentuknya, baik berupa ejekan, hinaan, memata-matai, mencari-cari aurat (aib)nya, ghibah, fitnah, celaan, melukai, penangkapan dan penahanan dipenjara, pemukulan dan siksaan seperti yang dilakukan oleh sebagian besar pemerintahan negara-negara Islam, bahkan negara-negara Arab secara khusus terhadap sebagian pemuda yang beragama dan memiliki semangat tinggi yang mereka telah salah jalan merupakan suatu perkara yang membangkitkan kemarahan dari dalam dirinya, dan membawanya kepada penolakan dengan suatu bentuk alasan atau dengan hal lainnya.

Mungkin inilah sebab dari apa yang diperingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya terhadap orang yang memusuhi orang lain tanpa alasan yang benar, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴿١١﴾أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujuraat/49: 11-12]

🔖 Sombong Dan Membanggakan Diri Di Muka Bumi Dengan Tanpa Memiliki Hak.
Sebab kelima yang mengakibatkan kemarahan adalah sifat sombong dan membanggakan diri di muka bumi dengan tanpa hak. Hal itu bahwa orang yang sombong dan membanggakan diri di muka bumi dengan tanpa hak akan mudah terpengaruh setiap kali hilang darinya apa yang diyakininya dalam rangka mengekalkan keagungan dan kedudukannya di antara manusia. Jika seseorang meminta haknya kepadanya, maka hal itu dapat mengobarkan amarahnya, demikian pula jika ia dilarang oleh seseorang dari suatu perbuatan yang hina, atau ada orang yang mengkritiknya dalam suatu perkara yang diyakininya bahwa ia telah sempurna sekali dari segala sisi dalam hal tersebut, maka tidak boleh bagi seseorang untuk memerintahnya, melarangnya atau menghalangi jalannya, padahal kenyataannya kekurangan padanya sangatlah sangat nyata dari segala sisi, ia berusaha untuk memaksa kekurangan tersebut dengan kesombongan dan membangga-banggakan dirinya.

🔖 Lupanya Jiwa Akan Arti Perjuangan.
Sebab keenam yang mengakibatkan kemarahan adalah lupanya jiwa akan arti perjuangan, yaitu bahwasanya setiap penyakit yang manusia diuji dengannya akan menjadi gawat dan bertambah parah, ia seolah-olah menjadi sebuah bagian dari pangkal kerusakan manusia ketika ia melalaikannya, dan jiwanya tidak berjuang untuk menghilangkan penyakit tersebut darinya atau melepaskan diri darinya.

Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak untuk berjuang dengan firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Al-‘Ankabuut/29: 69]

🔖 Tidak Adanya Orang Lain Yang Menunaikan Kewajibannya Terhadap Orang Yang Sedang Marah.
Sebab ketujuh yang mengakibatkan kemarahan adalah tidak adanya orang lain yang menunaikan kewajibannya terhadap orang yang sedang marah. Hal itu bahwasanya manusia telah mengetahui kekurangan dan aib-aibnya, akan tetapi disebabkan kelemahannya di hadapan jiwanya sendiri, di hadapan tipuan syaitan dari manusia dan jin serta perhiasan dunia, maka ia pun menjadi lemah untuk melepaskan diri dari aib tersebut. Kekurangan ini harus dibantu oleh orang lain yang mendampinginya hingga ia dapat melepaskan dirinya dari aib dan kekurangan tersebut dengan amarah, karena sesungguhnya amarah tersebut akan menjadi parah dan gawat hingga ia seolah-olah menjadi bagian dari pribadi pelakunya yang tidak dapat berpisah sedikit pun.

🔖 Sebuah Sifat Yang Dipandang Seseorang Masih Kurang Dan Merupakan Perbuatan Aib.
Sebab kedelapan yang dapat mengakibatkan kemarahan adalah sebuah sifat yang diberikan kepada seseorang lalu ia memandang sifat tersebut memiliki kekurangan dan aib. Hal itu bahwasanya manusia bila diberikan sebuah sifat dengan sifat-sifat yang ia pandang masih kurang ataupun memiliki aib yang membuat kedudukan dan kemuliaannya berkurang, seperti dikatakan kepadanya. ‘Seandainya kamu laki-laki maka kamu pasti bertemu dengan fulan dan fulan, saya mengira bahwa kamu tidaklah ingin bertemu fulan hanya karena khawatir dan takut akan kekuatannya,’ demikianlah hal yang menggerakkannya dari dalam dirinya dan terpantul pada anggota tubuhnya, seketika itu ia menjadi orang yang memerah wajah dan kedua matanya, bernoda dan berbuih sehingga berbuat kezhaliman dan balas dendam, seperti alasan yang menyebabkan keluarnya Umayyah bin Khalaf menuju kematiannya pada perang Badar sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata:

(( اِنْطَلَقَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ مُعْتَمِرًا، فَنَزَلَ عَلَى أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ أَبِيْ صَفْوَانَ، وَكَانَ أُمَيَّةُ إِذَا انْطَلَقَ إِلَى الشَّامِ فَمَرَّ بِالْمَدِيْنَةِ نَزَلَ عَلَى سَعْدٍ، فَقَالَ أُمَيَّةُ لِسَعْد:ٍ انْتَظِرْ، حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ النَّهَارُ، وَغَفَلَ النَّاسُ، انْطَلَقْتُ فَطُفْتُ، فَبَيْنَا سَعْدٌ يَطُوْفُ إِذَا أَبُوْ جَهْلٍ، فَقَالَ: مَنْ هَذَا الَّذِيْ يَطُوْفُ بِالْكَعْبَةِ ؟ فَقَالَ سَعْدٌ: أَنَا سَعْدٌ، فَقَالَ أَبُوْ جَهْلٍ: تَطُوْفُ بِالْكَعْبَةِ آمِنًا، وَقَدْ آوَيْتُمْ مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ: فَقَالَ: نَعَمْ، فَتَلاَحَيَا بَيْنَهُمَا، فَقَالَ أُمَيَّةُ لِسَعْدٍ: لاَ تَرْفَعْ صَوْتَكَ عَلَى أَبِي الْحَكَمِ، فَإِنَّهُ سَيِّدُ أَهْلِ الْوَادِيْ، ثُمَّ قَالَ سَعْدٌ: وَاللهِ لَئِنْ مَنَعْتَنِيْ أَنْ أَطُوْفَ بِالْبَيْتِ لأَقْطَعَنَّ مَتْجَرَكَ بِالشَّامِ. قَالَ: فَجَعَلَ أُمَيَّةُ يَقُولُ لِسَعْدٍ: لاَ تَرْفَعْ صَوْتَكَ، وَجَعَلَ يُمْسِكَهُ فَغَضِبَ سَعْدٌ فَقَالَ: دَعْنَا عَنْكَ، فَإِنِّيْ سَمِعْتُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزْعُمُ أَنَّهُ قَاتِلُكَ، قَالَ: إِيَّايَ ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: وَاللهِ مَا يَكْذِبُ مُحَمَّدٌ إِذَا حَدَّثَ، فَرَجَعَ إِلَى امْرَأَتِهِ، فَقَالَ: أَمَا تَعْلَمِيْنَ مَا قَالَ لِيْ أَخِي الْيَثْرِبِيُّ ؟ قَالَتْ: وَمَا قَالَ ؟ قَالَ: إِنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدًا يَزْعُمُ أَنَّهُ قَاتِلِيْ، قَالَتْ: فَوَاللهِ مَا يَكْذِبُ مُحَمَّدٌ، قَالَ: فَلَمَّا خَرَجُوْا إِلَى بَدْرٍ وَجَاءَ الصَّرِيْخُ، قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ: أَمَا ذَكَرْتَ مَا قَالَ لَكَ أَخُوْكَ الْيَثْرِبِيُّ؟ قَالَ: فَأَرَادَ أَنْ لاَ يَخْرُجَ، فَقَالَ لَهُ أَبُوْ جَهْلٍ: إِنَّكَ مِنْ أَشْرَافِ الْوَادِيْ، فَسِرْ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ، فَسَارَ مَعَهُمْ فَقَتَلَهُ اللهُ ))

“Sa’ad bin Mu’adz Radhiyallahu anhu pergi berumrah, lalu singgah di rumah Umayyah bin Khalaf Abu Shafwan. Dan biasanya, jika Umayyah akan pergi ke Syam ia harus melewati Madinah dan singgah di rumah Sa’ad, lalu Umayyah berkata kepada Sa’ad, ‘Tunggulah hingga tengah hari, di mana manusia telah beristirahat.’ Lalu ia pergi ke Ka’bah dan melakukan thawaf. Ketika Sa’ad thawaf, Abu Jahal melihatnya, maka ia berkata, ‘Siapa orang yang sedang thawaf di Ka’bah?’ Sa’ad berkata, ‘Aku, Sa’ad.’ Abu Jahal berkata, ‘Engkau thawaf di Ka’bah dengan rasa aman padahal engkau telah melindungi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya?’ Ia berkata, ‘Ya.’ Maka keduanya pun saling mencela, lalu Umayyah berkata kepada Sa’ad, Jangan kau tinggikan suaramu terhadap Abul Hakam, karena ia adalah pemimpin penduduk lembah ini.’ Lalu Sa’ad menjawab, ‘Demi Allah, seandainya kau melarangku thawaf di Ka’bah, maka aku akan menghadang kafilah dagangmu yang menuju ke Syam.’” ‘Abdullah berkata, “Lalu Umayyah berkata kepada Sa’ad, ‘Janganlah kau tinggikan suaramu -seraya memegangnya-‘ Lalu Sa’ad marah dan berkata, ‘Jauhkan aku darimu, sesungguhnya aku telah mendengar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwasanya ia akan membunuhmu.’ Ia berkata, ‘Membunuhku?’ Sa’ad berkata, ‘Ya.’ Ia berkata, ‘Demi Allah! Muhammad tidak akan berbohong jika berbicara.’ Lalu ia pulang kepada isterinya seraya berkata, ‘Apakah engkau tahu apa yang dikatakan sau-daraku dari Yatsrib?’ Isterinya berkata, ‘Apa yang dikatakannya?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya ia mendengar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membunuhku.’ Isterinya berkata, ‘Demi Allah, Muhammad tidak akan berbohong.’” ‘Abdullah berkata, “Ketika mereka berangkat menuju Badar dan datang panggilan (orang yang memanggil), isterinya berkata kepadanya, ‘Apakah engkau tidak ingat perkataan saudaramu dari Yatsrib?’” Ia (‘Abdullah) berkata, “Lalu ia ingin agar ia tidak pergi. Abu Jahal berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya kau termasuk di antara orang-orang yang terhormat dari penduduk lembah ini, maka berangkatlah satu atau dua hari.’ Maka ia pun berangkat dan akhirnya Allah membinasakannya.”[3]9

🔖 Mengingatkan Permusuhan Dan Dendam Kesumat Yang Telah Lama.
Sebab kesembilan yang dapat menimbulkan kemarahan adalah mengingatkan permusuhan dan dendam kesumat yang telah lama terpendam. Hal itu terjadi jika seseorang mempunyai dendam kesumat kepada orang lain, kemudian ia melupakannya demi agama dan imannya, sehingga hati mereka menyatu dan menjadi bersaudara dalam cinta. Dalam hal ini orang-orang yang dengki dan hasad berusaha menghitamkan kembali hati-hati tersebut setelah mencapai persaudaraan dengan satu cara atau dengan berbagai cara lainnya. Cara mereka yang paling efektif dalam merusak hubungan saudara tersebut adalah mengingatkan dendam yang telah lama terpendam. Seperti halnya hubungan yang terjadi pada kaum Anshar antara kabilah Aus dan kabilah Khazraj, pada zaman Jahiliyyah mereka mempunyai dendam dan saling bermusuhan serta berperang. Ketika Islam datang, hilanglah dendam kesumat antara mereka, lalu Islam mempersaudarakan mereka semua dan menyatukan pendapat mereka.

🔖 Kelalaian Akan Akibat-Akibat Yang Disebabkan Oleh Marah.
Sebab yang terakhir, bahwa terkadang (manusia) lalai terhadap akibat dan efek yang diperoleh dari amarah, baik bagi individu maupun kelompok, dunia maupun akhirat yang merupakan sebab terjadinya amarah, hal itu karena apabila seseorang lalai dari pengaruh-pengaruh dan akibat-akibat yang diperoleh dari suatu perkara, maka ia akan tergelincir kepada perkara tersebut tanpa ia ketahui dan sadari.

_[Disalin dari Kitab Mawaaqif Ghadhiba fiihan Nabiyyu Shallallahu Alaihi Wa Sallam Penulis Khumais as-Sa‘id, Judul dalam Bahasa Indonesia Pelajaran Penting Dari Marahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Pertama Sya’ban 1426 H – September 2005 M]_

➖➖➖
🔹Footnote
[1]. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( أَنَا زَعِيمُ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا …))

“Aku menjadi pemimpin di sebuah tempat di Surga bagi orang yang mening-galkan perdebatan walaupun dia di pihak yang benar…”, lihat kitab ash-Shahiihah (no. 273).

[2]. Hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, kitab al-Birr wash Shilaah, bab Maa Jaa-a fil Miraa’ (no. 2061), Tuhfatul Ahwadzi (VI/109). Dan at-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan.”
[3]. HR. Al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab ‘Alaamatun Nubuwwah fil Islaam (Fat-hul Baari VI/780, no. 3632).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

✍ Khumais as-Sa‘id
🌐 www.almanhaj.or.id

•┈┈•✿❁🌼🌹💖🌹🌼❁✿•┈┈•

Edit & Repost By :

📱 WAG "Forum Muslimah Hijrah" *Bermanhaj Salaf*
📲 Join Grup :
*(KHUSUS AKHWAT)*
🖥 Instagram : @belajarislam_sunnah

♻ Silahkan dishare ~
*“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”*
(HR. Muslim no. 1893)

🌷 Barokallahufikunna

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS