Akun save. Diberdayakan oleh Blogger.

.

RSS

Ayam goreng lengkuas


Ayam Goreng Lengkuas

Bahan : 
1 ekor ayam (potong 8)
3 pasang ati ampela
10 siung bawang merah
5 siung bawang putih
2 buah kemiri
4 ruas lengkuas
1 ruas kunyit (saya pakai 1/2 sdt kunyit bubuk)
1 sdt ketumbar (saya pakai 1/2 sdm ketumbar bubuk)
1 batang sereh (geprek)
Air secukupnya (untuk ungkep ayam)
Garam secukupnya
.
.
Cara Memasak :
1. Haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, lengkuas, kunyit dan ketumbar. 
2. Siapkan baskom (mangkok) besar. Campurkan ayam dan ati ampela dengan bumbu halus dan garam. Aduk hingga rata dan diamkan selama 30 menit (lebih bagus di kulkas).
3. Siapkan wajan. Masukkan ayam yang sudah dibumbui, sereh dan air ke dalam wajan. Ungkep hingga air menyusut dan matikan api.
4. Jika ayam ungkep sudah tidak panas lagi, ayam bisa dipindahkan di wadah tertutup dan simpan di kulkas. Ini bisa tahan hingga 3 minggu. 
5. Kalau mau disajikan, goreng ayam hingga emas kecoklatan. Angkat dan sajikan. .

#resepayamlengkuas
#saveresep
#ayamgorenglengkuas
#AGL

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Biji salak

Bahan :
- 250 gr Tepung Tapioka/Kanji/Aci
- 300 gr Ubi jalar (utk hasil kuning pakainya Ubi yg dalemnya kuning ya)
- 60 ml air putih
- garam secukupnya
- gula merah secukupnya
- air utk merebus secukupnya
- daun pandan 3 lembar

Cara Membuat :
- kukus ubi hingga lembut kemudian haluskan
- siapkan wadah dan masukkan ubi + tapioka + garam lalu diulen perlahan sambil dimasukan air sedikit2
- setelah tercampur rata buat bulatan2 dgn ukuran bebas
- didihkan air bersama gula merah dan daun pandan dgn tingkatan manis dan kekentalan sesuai selera
- masukkan biji salak dan rebus sampai matang *nanti akan mengembang sendiri
- matang dan sajikan utk berbagai hidangan sesuai selera (bubur candil, es jaipong, dsb)

#kumpulanresep
#resepindonesia
#resepjajanan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cheese cake (cake keju)

Cotton Soft Japanese Cheese Cake
Source : rickeindriani_ordinarykitchen

Bahan - bahan :
60 gram terigu
20 gram maizena
50 gram butter
250 gram cream cheese, suhu ruang
100 ml susu cair
6 kuning telur
2 sdt parutan kulit jeruk lemon (Sy 1 sdm)
6 putih telur
140 gram gula pasir
1/4 sdt garam
1 sdm air jeruk lemon

Cara membuat :

1. Siapkan loyang bulat ukuran diameter 20 cm atau 22 cm. Alasi kertas roti, olesi tipis mentega. Sisihkan. Pasang oven 150 derajat celcius.
2. Campur dan ayak terigu dan maizena. Sisihkan.
3. Campur butter, cream cheese, dan susu cair. Panaskan diatas api kecil sambil diaduk rata sampai meleleh. Ga usah terlalu lama ya, asal sudah leleh dan tercampur rata langsung angkat.
4. Masukkan campuran terigu dan maizena. Aduk rata. Masukkan kuning telur. Aduk rata. Masukkan kulit jeruk lemon aduk rata. Sisihkan.
5. Kocok putih telur hingga berbusa, masukkan gula dan air jeruk lemon sedikit demi sedikit sambil terus dikocok sampai putih telur mengembang dan membentuk kerucut tumpul ketika mixer diangkat (soft peak).
6. Tuang 1/3 adonan putih telur ke dalam adonan cream cheese, aduk rata. Tuang campuran ini ke sisa adonan putih telur (teknik pancingan), aduk rata sampai homogen. Tuang adonan ke loyang, panggang dg cara au bain marie (steam bake atau pemanggangan dg menggunakan loyang air) selama kurang lebih 75 menit atau sampai permukaan cake menjadi kuning/coklat keemasan (tergantung oven masing-masing yaaaa... ada juga yang lebih lama sekitar 90 menitan). Keluarkan dari oven.
7. Setelah benar-benar dingin, lepaskan cake dari loyang. Kelupas erlahan kertas rotinya. Siap disajikan dg olesan glaze di atasnya atau diberi topping sesuai selera.

#kumpulanresep
.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Resep sate maranggi

Bahan;
*500 gr Daging kambing/daging sapi has dalam (tenderloin)

bumbu halus
- 5 butir bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 1/4 sdt merica butira
- 1sdm ketumbar
-2 cm lengkuas muda
-1 cm jahe
-  2 cm kencur
-1 buah cabe merah besar, buang bijinya

pelengkap marinade :
-3 sdm air asam jawa (sebisa mungkin buat hingga pekat
-5 sdm kecap mani
-secukupnya garam

Sambal Kecap :

1/2 cup Kecap manis

1 siung bawang putih, goreng

7 butir merica goreng
3.cabe rawit

Acar tomat
1 buah Tomat besar
3 buah bawang merah
5buah Cabe rawit
secukupnya garam+gula
secukupnya cuka makan
secukupnya tusuk sate kualitas bagus

Langkah

60 menit

Potong dadu daging kur-leb 1.5cm. Sisihkan 

Buat marinade : 
Campur bumbu halus dengan air asam dan kecap. Aduk rata.

Bumbui daging dengan bumbu marinade, aduk merata. Simpan dalm lemari es minimal 10 menit (lebih lama lebih bagus)


Buat acar tomat : 
Potong - potong tomat + cabe rawit + bawang merah sesuai selera. 
Bubuhi garam+gula dan cuka makan. Aduk merata. Simpan dalam lemari es

Buat sambal kecap : 
Haluskan bawang putih goreng + cabe rawit + merica 
Tuangi kecap manis, aduk hingga tercampur rata (jika suka bisa di beri perasan jeruk nipis)

Setelah lebih dari 10 menit, keluarkan daging dari lemari es kemudian tusuk dengan tusukan sate (1 tusuk bisa 4-5 potong daging). Lakukan sampai habis


Kemudian bakar dengan bara arang sambil di bolak balik.

Sajikan bersama sambal kecap dan acar tomat.

 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pie buah


Kulit Pie
150g butter (me:margarin)
1 sdm penuh Gula Halus
2 btr Kuning Telur uk besar
250 gr Tepung Segitiga/All Purpose
Custard Vla
500 cc Susu Cair
85 gr Gula Pasir-atau sesuai selera
50 gr Tepung Custard (me : meizena)
2 butir Kuning Telur
1 sdt Vanilla/Rhum
1 sdm Butter (me : margarin)
sejumput garam
Langkah Kulit pie:
1.Campur terigu,gula,butter aduk dengan sendok kayu/pisau pastry sampai berbulir,tambahkan kuning telur,aduk rata
2. Bulat2kan adonan,lalu cetak dalam cetakan pie yang sudah dioles,tusuk garpu dasar pie supaya tidak menggelembung
3.Panggang suhu 170 derajat sampai keemasan
Langkah Vla
1.Larutkan custard powder/meizena dengan susu cair,aduk rata tambahkan Garam+gula
2.Panaskan sambil terus diaduk sampai mulai berbuih
3.Ambil 1/3 bagian cairan tuang ke wadah lain,tambahkan kuning telur,aduk rata lalu masukkan kembali ke adonan nomer 2 ,aduk sampai kental+meletup2
3.Matikan api,masukkan vanilla/rhum,tambahkan butter,aduk rata
4.Boleh ditutup plastik sampai saatnya digunakan
#piebuah
#reseppie
By tintinrayner

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puasa Arafah


*Puasa Arafah Berbeda dengan Hari Arafah*

Jika terjadi perbedaan dalam menentukan tanggal 9 Dzulhijjah, antara pemerintah Indonesia dengan Saudi, mana yang harus diikuti? Kami bingung dalam menentukan kapan puasa arafah?

*Jawab:*

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

*Pertama*, puasa arafah mengikuti wuquf di arafah.

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.

Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس

*Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah*. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)

*Kedua*, puasa arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah setempat

Karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu, ditentukan berdasarkan waktu dimana orang itu berada. Dan hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal *9 Dzulhijjah*. Sehingga penentuannya kembali kepada penentuan kalender di mana kaum muslimin berada.

*Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Utsaimin*. Beliau pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari arafah. Kita simak keterangan beliau,

Yang benar, semacam ini *berbeda-beda, sesuai perbedaan mathla’* (tempat terbit hilal). Sebagai contoh, kemarin hilal sudah terlihat di Mekah, dan hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara di negeri lain, hilal terlihat sehari sebelum Mekah, sehingga hari wukuf arafah menurut warga negara lain, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka pada saat itu, tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa. Karena hari itu adalah hari raya bagi mereka.

Demikian pula sebaliknya, *ketika di Mekah hilal terlihat lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9* di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut, maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

*Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah* puasa dan apabila melihat hilal lagi, (hari raya), jangan puasa. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, volume 20, hlm. 28)

Dari keterangan di atas, kita bisa memahami bahwa perbedaan penentuan hari arafah, kembali kepada dua pertimbangan:

*Pertama*, apakah perbedaan tempat terbit hilal (Ikhtilaf Mathali’) mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal ataukah tidak.

*Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan*, kaum muslimin di seluruh dunia disatukan. Sehingga perbedaan tempat terbit hilal tidak mempengaruhi perbedaan tanggal.

Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathali’ *mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di masing-masing daerah*. Ini meruakan pendapat Ikrimah, al-Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas.  (Fathul Bari, 4/123).

Dari dua pendapat ini, insyaaAllah yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Adanya perbedaan tempat terbit hilal, mempengaruhi *perbedaan penentuan tanggal*. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits (Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya  untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya,

Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku

“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.

“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya melihatnya dan  masyarakatpun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه

“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi,

“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).

*Kedua*, batasan hari arafah

Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa arafah adalah puasa pada hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di arafah. *Tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal* dan waktu terbitnya hilal.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah berbeda.

Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih pendapat yang benar dari dua keterangan di atas. Terlepas dari kajian ikhtilaf mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal) di atas.

Kita sepakat bahwa islam adalah agama bagi seluruh alam. Tidak dibatasi waktu dan zaman, sebelum tiba saatnya Allah mencabut islam. Dan seperti yang kita baca dalam sejarah, di akhir dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang jarak jangkaunya cukup jauh. *Mekah dan Madinah kala itu ditempuh kurang lebih sepekan*. Kemudian di zaman para sahabat, islam telah melebar hingga dataran syam dan Iraq. Dengan alat transportasi masa silam, perjalanan dari Mekah menuju ujung wilayah kaum muslimin, bisa menghabiskan waktu lebih dari sebulan.

Karena itu, di masa silam, untuk mengantarkan sebuah info dari Mekah ke Syam atau Mekah ke Kufah, harus menempuh waktu yang sangat panjang. Berbeda dengan sekarang, anda bisa menginformasikan semua kejadian yang ada di tanah suci ke Indonesia, *hanya kurang dari 1 detik*. Sehingga orang yang berada di tempat sangat jauh sekalipun, bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di arafah, dalam waktu sangat-sangat singkat.

Di sini kita bisa menyimpulkan, jika di masa silam standar hari arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf di arafah, tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang jauh dari Mekah, tidak mungkin bisa menerima info tersebut di hari yang sama, atau bahkan harus menunggu beberapa hari.

*Jika ini diterapkan*, tentu tidak akan ada kaum muslimin yang bisa melaksanakan puasa arafah dalam keadaan yakin telah sesuai dengan hari wukuf di padang arafah. Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta dengan kondisi di Mekah.

Ini berbeda dengan masa sekarang. Hari arafah sama dengan hari wukuf di arafah, bisa dengnan mudah diterapkan. Hanya saja, di sini kita berbicara dengan standar masa silam dan bukan masa sekarang. Karena tidak boleh kita mengatakan, ada satu ajaran agama yang hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi, sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam.

Oleh karena itu, *memahami pertimbangan di atas, satu-satunya yang bisa kita jadikan acuan adalah penanggalan*. Hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, dan bukan hari jamaah haji wukuf di Arafah. Dengan prinsip ini, kita bisa memahammi *bahwa syariat puasa arafah bisa dipraktekkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia* tanpa mengenal batas waktu dan tempat.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/23509-puasa-arafah-berbeda-dengan-hari-arafah.html

Website : Dakwahsunnah.com
IG@belajarislam_sunnah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Free Gift


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS