Akun save. Diberdayakan oleh Blogger.

.

RSS

Itikaf

🌷Tausiyah Siang🌷

_#Fiqh Ramadhan_

📚 *I’TIKAF*

📢 Saudara dan Saudariku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

1⃣ *Pengertian I’tikaf.*

👉 Secara syari’at makna i’tikaf adalah bertempat tinggal di masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah ta’ala yang dilakukan dengan sifat-sifat tertentu [Lihat Syarhu Muslim (8/66) oleh Imam Nawawi].

2⃣ *Dalil Disyari’atkannya I’tikaf.*

📍 Disunnahkan i’tikaf di bulan Ramadhan dan bulan lainnya sepanjang tahun. I’tikaf yang paling utama adalah pada bulan Ramadhan, berdasarkan hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما

_*“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasanya beri’tikaf selama sepuluh hari setiap bulan Ramadlan. Maka ketika di tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.”*_ [HR. Al-Bukhari no. 2044]

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله

_*"Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau."*_ [HR. Al-Bukhari no. 2026 dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa]

👉 Syaikh Albani berkata dalam Qiyamu Ramadhan (hlm. 34) : “Itikaf hukumnya sunnah, baik pada bulan ramadhan maupun pada bulan-bulan lainnya. Dasarnya firman Allah Ta’ala :

وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ

_*“... sedang kamu beri´tikaf dalam mesjid...”*_ [QS. Al-Baqarah : 187]

3⃣ *Waktu Pelaksanaan I’tikaf.*

📍 Disunnahkan memulai i’tikaf setelah shalat fajar (shubuh), sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa tentang i’tikaf Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

إذا أراد أن يعتكف صلى الفجر ثم دخل معتكفه

_*“Apabila beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak i’tikaf, maka beliau shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikaf-nya.”*_ [HR. Muslim no. 1173]

👉 *Itikaf hukumnya sunnah, terkecuali i’tikaf nadzar, maka seseorang wajib menunaikannya.* Jika ia bernadzar itikaf satu hari atau lebih, maka ia wajib memenuhi apa yang dinadzarkannya itu (Fiqhus Sunnah, I/476). Adapun itikaf yang sunnah yaitu setiap waktu pada setiap harinya sepanjang tahun.

📍 Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ber itikaf pada sepuluh hari pertama bulan syawwal. Dari Aisyah radhiyaallahu anha dia berkata, _*“....Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah meninggalkan itikaf pada bulan ramadhan sehingga beliau ber itikaf pada sepuluh hari pertama bulan syawwal.”*_ [HR. Bukhari, no. 2033]

👉 Anjuran itikaf lebih dianjurkan pada bulan ramadhan. Waktu mengerjakannya yang paling afdhal adalah pada akhir ramadhan. Sebab, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam selalu ber itikaf pada sepuluh hari terakhir setiap bulan suci ini hingga Allah Ta’ala mewafatkan beliau [Qiyamu Ramadhan, hal 35].

4⃣ *Syarat-Syarat I’tikaf.*

*ⓐ Islam.*

لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ

_*"... Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu ..."*_ [QS. Az-Zumar:65]

*ⓑ Berakal/Tamyiz.*

√ Dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, _*"Pena (kewajiban syariat) diangkat dari 3 golongan : orang yang tidur hingga ia bangun, orang gila hingga ia berakal atau siuman, dan anak kecil hingga ia baligh."*_ [HR. Abu Dawud, hadis ini dishohihkan Syaikh Albani dalam Al-Irwa, no. 297]

*ⓒ Niat.*

*ⓓ Tidak disyari’atkan melakukan i’tikaf selain di masjid.

√ Berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ ١٨٧

_*"Janganlah kamu campuri istri-istri kalian, sedangkan kamu dalam keadaan i’tikaf di dalam masjid."*_ [QS. Al-Baqarah : 187]

*ⓔ Disunnahkan bagi yang ber i’tikaf hendaknya berpuasa.*

√ Sebagaimana yang dijelaskan dalam atsar dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa :

ولا اعتكاف إلا بصوم

_*"Tidak ada ada I’tikaf melainkan dengan berpuasa."*_ [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2473; hasan shahih. LihatShahih Sunan Abi Dawud 2/87]. Maka maknanya di sini adalah puasa tersebut hanya dihukumi sunnah saja, bukan wajib.

5⃣ *Larangan I’tikaf.*

*ⓐ Murtad*

√ Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala :

لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ

_*"... Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu ..."*_ (QS. Az-Zumar:65)

*ⓑ Berjima’/Bersetubuh dengan Istri*

√ Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala :

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

_*"Dan janganlah kalian bercampur (berjima’) dengan istri-istri kalian sedangkan kalian dalam keadaan i’tikaf di dalam masjid."*_ [QS. Al-Baqarah : 187]

√ Ibnul-Mundzir berkata :

وأجمعوا على أن المعتكف ممنوع من المباشرة. وأجمعوا على أن من جامع امرأته وهو معتكف عامدًا لذلك في فرجها أنه مفسدٌ لاعتكافه

_*"Para ulama telah bersepakat bahwasannya seseorang yang beri’tikaf terlarang untuk bercumbu. Dan para ulama pun telah bersepakat bahwa siapa saja yang menjima’i istrinya dengan sengaja di kemaluannya dalam keadaan orang tersebut sedang ber-i’tikaf, maka i’tikafnya tersebut batal."*_ [Kitaabul-Ijma’ oleh Ibnul-Mundzir no. 133 dan 134, tahqiq dan ta’liq : Abu ’Abdil-A’la Khalid bin Muhammad bin ’Utsman; Daarul-Atsar, Kairo, Cet. 1].

√ Ibnu Abbas berkata, _*"Jika orang yang itikaf bersetubuh, maka batallah itikafnya dan ia harus mengulanginya."*_ [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, III/92 dan lihat Qiyamu Ramadhan, hlm. 41]

√ Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab As-Sailul-Jarar 2/136 berkata, _*"Dan hal itu adalah merupakan ijma’ (kesepakatan) ummat (para ulama’)."*_ [Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Maraatibul-Ijma’ hal. 48]

√ Meskipun demikian, tidak ada kaffarat bagi orang yang batal itikafnya disebabkan jima’. Sebab, tidak ada riwayat yang menyebutkan keterangan itu, baik dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam maupun dari para Sahabat beliau.

*ⓒ Keluar dari Masjid.*

√ Di antara petunjuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah bila beliau melakukan i’tikaf, maka beliau menyendiri di tempat i’tikafnya dan tidak masuk ke rumahnya (keluar dari masjid) kecuali karena hajat manusia yang sifatnya mendesak, seperti mandi apabila junub karena mimpi, buang hajat, dan lainnya.

عن عائشة قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا اعتكف يدني إلي رأسه فأرجله وكان لا يدخل البيت إلا لحاجة الإنسان

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata : _*"Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila beliau beri’tikaf, beliau mencondongkan kepalanya dan aku menyisir rambutnya. Tidaklah beliau masuk rumah kecuali karena hajat manusia."**_ (HR. Muslim no. 297).

* Beliau mencondongkan kepalanya dengan posisi badannya masih berada di masjid, untuk disisir ‘Aisyah yang berada di rumahnya. Sebagaimana diketahui bahwasannya rumah beliau dekat dengan masjid. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak keluar dari masjid kecuali ada kebutuhan yang sangat mendesak.

√ Ibnu Hazm berkata :

واتفقوا على أن من خرج من معتكفه في المسجد لغير حاجة ولا ضرورة ولا بر أمر به أو ندب اليه فان اعتكافه قد بطل

_*"Para ulama telah bersepakat bahwa sesungguhnya seseorang yang keluar dari tempat i’tikafnya di masjid tanpa ada satu keperluan, tanpa darurat, atau tidak karena kebaikan yang diperintahkan atau disunnahkan, maka i’tikafnya batal."*_ [Maratibul-Ijma’ halaman 40]

📝 *Silahkan baca juga beberapa Artikel singkat dan Tanya Jawab Seputar Ramadhan di Telegram Permata Sunnah di :* telegram.me/TanyaJawabPermataSunnah dan di : telegram.me/PermataSunnah

📑 *Referensi :*
- Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karya Syaikh Husain bin 'Audah Al-'Awaisyah.
- Meneladani Rasulullah dalam Berpuasa & Berhari Raya. Karya Syaikh Ali bin Hasan & Syaikh Salim bin Ied al Hilali.
- Ringkasan Hukum-Hukum Puasa (Abul-Jauzaa Blog)

👆 Ya Allah teguhkanlah kami di atas iman dan amal shalih, hidupkan kami dengan kehidupan yang baik dan sertakan diri kami bersama golongan orang-orang yang Beriman.


Bahir Community

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar